Pendaftaran dan tes telah usai, meski sempat tertinggal di
hari pertama pendaftaran, Spora dan Laverna semangat datang siang keesokan
harinya. Tibalah kegiatan yang ditunggu-tunggu semua siswa, pelaksanan ospek.
Spora membenci kegiatan ini, baginya ospek hanya membuang waktu dan energi.
Kegiatan ini juga tidak lantas membuat hubungan beratus-ratus siswa baru yang
diterima akrab dengan senior yang terlibat mengospek maupun guru-guru.
Berbeda dengan Laverna, ia amat menyenangi kegiatan ini. Hal
yang direncanakannya ialah menjatuhkan dan mengerjai senior yang nantinya
berlagak songong. Laverna sudah menyiapkan beberapa rencana untuk senior yang
bahkan belum mengganggunya.
“Yaaaaah”, teriak siswa yang tengah berkumpul di lapangan.
Hihihi, seringai
Spora pada pengumuman yang barusan memberitahu para siswa bahwa masa orientasi
akan diisi dengan kegiatan belajar di kelas, seperti mengingat pelajaran dan
melakukan bersih-bersih. Spora amat sangat bahagia dengan pengumuman kepala
sekolah. Selanjutnya kepala sekolah mengintruksikan siswa untuk masuk ke kelas
dan mulai membersihkan ruangan terlebih dahulu.
“Yuk Spor, ke kelas, kelas kita sebelahan”, ajak Laverna
pada Spora yang berdiri disebelahnya.
Tanpa memperhatikan Spora, Laverna
melangkah lambat menuju kelas, berharap Spora menyamakan langkah dengannya. Dua
menit berlalu namun Spora tak kunjung hadir menyusulnya. Laverna berbalik
mencari tahu keberadaan Spora.
Spora yang tertunduk, berjalan mengikuti seorang laki-laki
disampingnya.
“Spor, Spooraaaa”, teriak Laverna menyadarkan Spora. Spora
mendengar teriakan, lalu ia menarik lengan orang yang ada di samping nya.
“Lav, bentar deh. Kok kayak ada yang manggil ya?”, serta
merta ia melihat wajah orang yang dikiranya Laverna.
Betapa kaget bukan
kepayang ternyata orang yang dari tadi diikutinya bukan Laverna. Masih dengan
ekspresi kaget dan mulut sedikit mengaga ia memandang wajah Rino. Seperti
terkena sihir, Spora bahkan tidak mendengar teriakan Laverna yang sedari tadi
memanggilnya.
Kesal dengan kelakuan temannya, Laverna berlari kecil
menghampiri Spora. Belum ia sampai, dilihatnya anak laki-laki yang dipandangi
Spora itu menjatuhkan sesuatu kedalam mulut Spora, lalu ia berseringai dan lari
meninggalkan Spora yang masih mematung.
“uhuk, uhuk”, Spora terbatuk-batuk karena serpihan daun-daun
yang dijatuhkan kedalam mulutnya tadi kini menggelitik kerongkongannya.
“Udah dipanggili dari tadi, malah ngikut orang gak jelas”,
ucap Laverna yang langsung mengajak Spora ke kantin membeli air.
“Lav, kayaknya aku udah terhubung sama anak tadi deh.
Namanya Rino, keknya aku suka lah sama dia”, racau Spora pada Laverna.
...
Dua bulan Spora bersekolah, berita Spora menyukai Rino pun
menyebar ke seantero sekolah. Mengetahui hal ini, Rino bersikap biasa saja
terhadap Spora. Tetapi ia selalu memberikan senyum termanis untuk Spora, dan
setiap kali Spora mendapati Rino senyum padanya, ia hanya mematung memandangi
Rino sampai anak itu berlalu dari hadapannya.
“Mana mungkin Rino suka sama patung”, ejek Laverna pada tingkah Spora yang tidak wajar ini.
“Ya ampun Lav, nggak ngerti lah aku kenapa kek gitu kalo
ketemu sama Rino. Ini pasti cinta pada pandangan pertama. Dia itu manis kali
senyumnya, yaudah nanti kalo ketemu sama dia lagi, aku coba nyapa ya”, respon
Spora.
Rino dan teman-temannya terbahak-bahak mendengar percakapan
yang direkam oleh Lukman, teman Rino. Lukman merekam percakapan Spora dan
Laverna saat di kantin. Hari ini siswa diperbolehkan membawa hp ke sekolah karena hanya ada agenda
bersih-bersih di sekolah. Mereka penasaran dengan aksi penyapaan Spora pada
Rino, sehingga mereka membuat sebuah rencana.
Rino dan
teman-temannya mengikuti Spora diam-diam, sampai pada keadaan yang mereka setting, Spora dan Laverna pergi ke
toilet. Rino dan teman-temannya sengaja berkerumun tidak jauh dari jalanan
menuju toilet, menunggu Spora keluar dan menyapa nya.
~
“Ngerjain bareng di rumah aku aja yuk, Lav. Kalo ada
temennya kan enak tuh ngerjain, nggak ngantuk”, ajak Spora membuka percakapan.
“Boleh sih, cuma aku belum kepikiran aja Spor, bahan-bahan
untuk membuatnya”, balas Laverna yang sedang berjalan bersamaan dengan Spora.
Spora yang tengah memakai jam tangannya melanjutkan percakapan mereka.
“Kalo aku rencananya mau pake gabus, Lav...”, belum selesai
Spora melanjutkan penjelasannya, Laverna menepuk-nepuk bahunya. Dengan agak
kaget ia melihat kesamping, tepat ke wajah Laverna yang berdiri di sebelahnya.
Spora mengikuti arah Laverna melihat, didapatinya Rino sedang berdiri tak jauh
dihadapannya. Spora mendelikkan matanya, mulutnya terbuka sedikit, -lagi- ia
mematung.
Rino dan teman-temannya diam, menunggu sapaan Spora. Melihat
ekspresi Spora yang lagi-lagi aneh –menurutnya, Rino tersenyum pada Spora.
Melihat senyum Rino yang melemahkan hatinya, tulang kaki Spora rasanya berubah
menjadi jeli, kakinya melemah serasa tak mampu menopang besarnya bahagia yang
dirasa.
Tak tahan dengan keadan ini, ia menarik tangan Laverna
kemudian berlalu pergi meninggalkan Rino dan kerumunannya. Laverna merasakan
genggaman tangan Spora yang dingin, ia tahu pasti sahabatnya ini sedang gugup
sekali. Spora berharap bisa melakukan teleportase saat itu juga, ia berharap
sudah berada di kelas dan mengembalikan keadaannya yang memalukan.
“Sporaa”, panggil Rino yang lalu menghentikan langkah Spora
dan Laverna.
Ya ampun, dia manggil
aku, mau ngapain yaaa. Ya yampun, noleh nggak yaa, aduh maluu, racau Spora
dalam benaknya. Berharap tak ingin kehilangan kesempatan bercakap dengan Rino,
Spora berbalik. Dilihatnya Rino semakin dekat berjalan ke arahnya. Jantung
Spora semakin berdebar kencang, digenggamnya tangan Laverna semakin kuat.
“Ini, jam tangan nya tadi jatuh”, Rino memberikan jam tangan
Spora.
Dengan ragu, tampak Spora menjulurkan tangannya hendak
mengambil jam tangan. Tangannya gemetaran dan pikirannya entah kemana, rasanya
seperti ia mau pingsan. Perlahan tapi pasti jam tangan itu berpindah ke tangan
Spora.
“Lain kali hati-hati Spor, kalau rusak kan sayang...”, belum
sempat ia melanjutkan kalimat, Spora memotongnya dengan cepat.
“Iya, aku juga sayang”, sela Spora pada Rino. Sesaat ia
menyadari yang diucapkannya, Spora lalu menambahkan, “e.. emmm, itu maksudnya
sayang kok sama jam tangannya”.
Rino yang merasa geli akan tingkah Spora hanya senyum lalu
pergi meninggalkan Spora dan Laverna. Setelah ditinggalkan Rino, Spora merasa
kakinya benar-benar tidak kuat menopang tubuhnya, ia ambruk, jatuh ke tanah.
“Ya ampun Lav, dia tau namaku. Dia tau namaku, hahaha”,
Spora setengah berteriak girang, ia seakan tak percaya kalau Rino mengetahui
namanya. Pandangannya tiba-tiba mengabur, air mata setitik menetes di pipinya.
“Spora, ko sampe nangis? Ya ampun, segitu sukanya ko sama
dia? Sampe nangis haru gitu?”, respon Laverna pada kelakuan sahabatnya yang
diluar nalarnya itu.
...
“Udah setahun pun, tetep nggak berhasil kan? Udah lah move on aja. Lagian suka sama cowok
populer sih, susah lah banyak saingan. Bedakmu kurang tebal, pergaulanmu kurang
maen, bajumu kurang ketat, main Volly pun nggak bisa, bisa mu lari aja. Hahaha
lari dari kenyataan”, ejek Laverna pada Spora yang tengah uring-uringan
mendengar kabar jadian Rino dengan pacar barunya.
Tiga bulan setelah mereka aktif belajar di kelas X dulu,
Spora sudah patah hati. Rino pujaan hatinya mempunyai pacar, kakak kelas yang
cantik. Ini merupakan kejelasan bahwa cewek tipe Rino adalah cewek cantik. Tak
berjalan begitu mulus dengan si kakak kelas, Rino putus. Semester kedua Rino
berpacaran dengan salah satu anak populer di sekolah yang memiliki pergaulan luas.
Bahkan karena pengaruh anak ini, dulu Rino sering kali main ke kelas Spora
karena anak laki-laki di kelas Spora pun jadi akrab dengan Rino. Semakin sering
Rino main ke kelas Spora, semakin sering Spora absen berada di kelasnya. Kemana
ia pergi? Tentu saja melanglang buana mencari informasi seputar Rino.
Setelah semua kisah yang dikuliknya dari temannya yang
sekelas dengan Rino, diketahuinya lagi Rino pacaran dengan atlet Volly sekolah.
Ya, anak ini tidak terlalu cantik, tapi tentu saja dia berprestasi dan Rino
menyukainya. Dibalik keterpurukan Spora yang sudah 3 kali patah hati, kemana
perginya sahabat Spora, Laverna? Alih-alih membantu Spora keluar dari
kesedihannya, ia asyik menghabiskan waktunya di perpustakaan. Tak sedetikpun ia
terlihat berkeliaran di sekolah, pada kesempatan apapun Laverna pasti selalu ke
perpustakaan.
Spora kesal dengan kelakuan Laverna yang hobi menghilang, ia
memutuskan untuk ke perpustakaan mencari Laverna. Keadaan perpustakaan gelap,
tirai jendela tidak dibuka lebar. Spora membenci hal yang tidak sesuai dengan
pikirannya. Menurutnya bagaimana bisa mereka tidak memberikan cahaya yang cukup
untuk murid-murid yang sedang membaca. Inilah sebab ia malas berada di
perpustakaan.
Ditelurusinya lorong demi lorong tak ditemukannya Laverna.
Bergerak ke susunan kursi-kursi untuk pembaca, tampak lumayan ramai diisi
siswa. Diperhatikan Spora satu persatu tapi tak tampak wajah Laverna ada
disana. Merasa sudah membuang-buang waktu, ia memutuskan keluar dan kembali ke
kelasnya, menunggu jam istirahat usai.
Dijalan menuju kelas, Spora berpapasan dengan Pak Ahmad,
guru TI. Pak Ahmad meminta bantuan Spora untuk membawakan beberapa buku ke
laboratorium komputer. Tanpa basa-basi Spora mengiayakan permintaan gurunya dan
langsung bertolak ke lab.
Ruangan ini juga sama,
gelap, pikir Spora. Tak menyukai keadaan ini, Spora buru-buru menaruh buku
di meja guru. Dilihatnya sekeliling sebelum ia meninggalkan lab, tampak sesosok
yang sempat membuat matanya terbelalak, Laverna. Anak ini ngapain disini? Basecamp nya pindah?, pikir Spora. Ia
langsung menghampiri Laverna yang tengah asyik mengoperasikan photoshop.
“heh ngapain diisini? Aku muter-muter nyari di perpus tau!”,
omel Spora pada Laverna.
Merasa tindakannya ketahuan orang lain, ia nyengir ke arah
Spora.
“hehehe, iseng doang main disini. Bosen di perpus”, elak
Laverna dan langsung mengajak Spora keluar.
Spora hanya memberikan muka masam pada Laverna dan
meninggalkan Laverna yang masih berusaha mematikan komputer. Bel masuk tiba-tiba
berbunyi. Kebetulan sekali, pikirnya.
Ia lalu mempercepat langkah keluar ruangan dan jongkok, berusaha memakai
sepatunya. Selesai memakai sepatu, ia mendongak ke atas dan berdiri.
Tatapannya terkunci oleh kehadiran Rino yang berdiri tepat
didepannya. Patah hati dan move on hanya sebuah judul untuk cerita yang tidak
akan usai. Jantung Spora memompa darah begitu cepat, bahkan nafasnya hampir
tersengal. Sebisa mungkin ia berusaha tidak ketauan Rino sedang gugup, meskipun
semua orang dapat melihat dengan jelas betapa gugupnya Spora.
Masih dalam tatap yang saling mengunci, tiba-tiba Spora
terkaget. Rambutnya yang diikat belakang, ditarik oleh seseorang. Badannya yang
tidak menerima aba-aba ikut tertarik searah yang menariknya dan berlalulah ia
meninggalkan tatapan Rino.
“Yaelah, drama deh, lama!”,
Laverna menarik rambut Spora dan gamblangnya ia mengucap sepatah kata itu.
Tentu saja ia berakhir dimarahi oleh Spora. Ulah Laverna yang membuat Spora
kesal sudah tentu akan membuat Spora lupa mengapa basecamp Laverna pindah ke lab. Untung
saja tadi aku ngga kepergok Spora, batin Laverna.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar