Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Bangku Taman



Sepertinya kursi ini cukup panjang, cukup untuk menopang lebih dari hanya aku. Disinilah aku kala langit mulai sendu, di bangku taman favoritmu. Saat ku Tanya mengapa kursi ini menjadi kesukaanmu, karena ada segerombol Bunga Sepatu disamping kursi ini katamu. Aku tersenyum. Kau menyukai Bunga Sepatu. Kau selalu menyelipkan satu Kembang Sepatu dijalinan kepang rambutku.
Disinilah aku, duduk di kursi taman favorimu, menjadi tim sorak sorai tandingmu yang paling diam. Derap langkah mengampiriku, kau duduk tepat disampingku dan hanya diam. Aku menoleh ke arahmu, tersenyum hangat, memejamkan mata lalu menarik nafas dalam-dalam. Ini bukan aroma tubuhmu.
Aku masih marah pada mu dan tak ingin sedikitpun mendapat gandenganmu. Tapi bagaimana bisa aku sampai rumah dengan selamat tanpa kau. Pun, bukan Bani namanya jika tak mampu melelehkan lilin-lilin penerang hatiku. Tawaku pecah berkat leluconmu sore itu.
“Bani, aku selalu bertanya-tanya. Sebesar apakah taman itu? Menurut ceritamu ada banyak bangku disana, juga kau selalu main sepak bola setiap sore. Banyak juga penjual makanan.” Kau tertawa dan merengkuh bahuku, menarik ke dekapanmu. Kau bilang suatu saat nanti kita akan melihat taman itu, duduk di bangku kesukaanmu, menonton surya pulang ke peraduannya. Katamu senja amat indah.
Aku selalu ingin melihat taman yang rumputnya hijau itu. Aku selalu ingin melihat kursi yang kita duduki. Aku ingin melihat Hibiscus rosa yang bertandang di jalinan rambut merahku. Aku ingin melihat binar-binarmu yang terpana pada keindahan senja. Aku ingin melihat kau.
Aku menyukai bau keringatmu, ya hanya itu yang kukenal dari kau, Ban. Oh aku rindu memandang wajahmu, mengagumi senyummu, menjadi penyorak yang bersuara melihat kau berlari-larian mengejar bola. Bani, jantan keturunan Minang yang gemar sekali bola sepak, memilih aku, gadis albino tuna netra campuran Sunda Rusia.
Di sini lagi aku duduk, pada mentari yang sinarnya terus redup. Sebentar lagi malam dijemput, tapi aku tak ingin beranjak. Aku masih merasakan ramai-ramai taman yang setiap sore aku dan Bani datangi. Mengingat-ingat bau keringat selepas lelarian Bani. Me-reka ulang setiap momen Hibiscus rosa diselipkannya, Bunga Sepatu kalau kata Bani.
Aku tertawa. Aku bahagia mengingat ingat yang terjadi saat aku belum dapat melihat dunia. Aku tertawa, mengingat-ingat lelucon yang dilontarkannya. Tangisku pecah, seiring dengan tawa yang sedari tadi tengah buncah. Aku tak malu menyimpan rindu meski kisah kami telah ditelanjangi takdir. Tak mampu ku bendung pilu-pilu yang telah melaut ini, ombaknya terlalu besar. Kehilanganmu rasanya lebih pedih dari pada kenyataan terlahir buta.
Bani adalah alasan aku ingin melihat dunia, melihat Bani, karena Banilah duniaku. Aku bersikeras ingin melalukan operasi mata. Aku ingin melihat Bani, meskipun bersanding di pelaminan bersama Sonia, wanita yang kini menjadi isterinya. Runtuh, janji yang dahulu pernah bani ucapkan, tentang senja dan kami. Tentang malam dan beribu bintang, Bani memang melingkarkan cincin pilihannya pada jari manisku, tetapi bukan sebagai tanda ia milikku. Aku yang miliknya, perasaanku terpenjara, hanya untuk Bani.
Aku mencari-cari keberadaan ayahku, pria Rusia yang tak bertanggungjawab meninggalkan wanita Sunda yang dihamilinya. Aku ingin ia memberikan penyembuhan dan membayar semua derita yang ibu dan aku rasakan. Semua pengucilan yang aku dan ibu terima, lelaki yang secara biologis adalah ayahku itu, ia harus bertangggung jawab untuk setiap detik ibu menderita, untuk setiap tangis aku kehilangan Bani.
Bani menjadi satu-satunya teman dan kekasih di saat manusia-masnusia naif itu menjauhiku. Kau bersinar, kata bani. Kau berlian, mana mungkin aku tak ingin berteman denganmu, malah aku ingin memilikimu, aku masih teringat ucap Bani terdahulu. Pigmen kulit sialan ini melemahkanku, sekaligus menguatkanku. Karenanya aku memiliki Bani, dan kehilangan Bani.
Aku masih di bangku kesukaan Bani, menunggu ia selesaikan pertandingannya. Entah apa yang terjadi sore itu, ramai-ramai suara orang berlarian. Kesana kemari, tak beraturan. Aku tegang, menunggu Bani menghampiriku. Cukup lama, tak juga ia datang. Mungkinkah di taman ini ditanam bom? Entahlah, mana aku tahu. Aku masih buta waktu itu.
Teman Bani mengantarku pulang, aku tak berhenti menangis sepanjang jalan. Tak ingin memberi tahuku atau apa, katanya Bani kecelakaan saat main bola. Kepalanya terbentur, entahlah aku tak dijelaskan dengan rinci. Yang ku bisa hanya mendoakan kesehatan dan keselamatan Bani. AKu minta Rido menjemputku nantinya untuk menjenguk Bani.
Sehari ia tak datang. Dua hari, tiga hari, seminggu berlalu. Rido tak pernah datang. Mungkinkah Bani mati? Akupun ingin mati.
Entah apa rencana Tuhan, aku dan pria itu dipertemukan. Semua dikabulkannya, pengobatanku, operasiku. Aku dirawat dengan baik olehnya. Ia dan ibu bersatu lagi. Begitulah cinta, sesakit apapun ibu terluka, nyatanya ia rela terluka lagi. Ibu tinggal dengan Adri di Inggris. Aku kembali ke Indonesia, ingin melihat pernikahan Bani. Itulah kabar terakhir yag aku ketahui tentang Bani, ia akan menikah.
Aku lupa tentang semua pengobatan yang aku jalani di Inggris, ternyata itu memakan waktu cukup lama. Tentu saja Bani sudah menikah saat aku kembali. undangan pernikahannya kudapati di dalam rumah. Pasti mereka menyelipkannya dari bawah pintu, pikirku. Ternyata Bani amat tampan, ia tampak bahagia merangkul seorang wanita pada foto di undangan ini, pasti calon mempelai wanitanya.
Hatiku memang hancur, tapi aku hanya iingin bertemu Bani saat ini. Aku ingin memandanginya dari dekat, dari jarak 10 cm, aku sudah lama tidak membaui keringatnya. Ahh keringat, aku teringat sesuatu, kulirik jam yang tersangkut di atas tv. Pukul tiga sore, jam empat adalah jadwal Bani bermain futsal di taman. Apalagi yang aku tunggu, segera bersiap-siap menonton pertandingan Bani. Sore ini aku akan menjadi penyorak paling semangat, menyaksikan langsung Bani berlari-larian mengejar Bola.
Aku berjalan perlahan, mengagumi setiap keindahan tempat yang membesarkanku, tempat yang juga menjadi saksi aku dan Bani Berkasih-kasih. Bangku taman, aku melihat banyak sekali bangku di taman ini. Yang mana satu menjadi kesukaan Bani, aku akan datang kesana. Aku tengah membawa serangkaian Kembang Sepatu di tangan kananku, untuk Bani.
Pohon Hibiscus rosa yang tegap berdiri di samping bangku itu ku pandangi lekat-lekat. Bunganya tengah bermekaran, indah, seperti yang ada di genggamanku. Sementara bangku itu, seorang pria dan wanita tengah duduk di sana, begitu dekat, mereka tak berjarak, meskipun sepuluh centi. Jantungku berdegup, aku perlahan mendekat, selangkah demi selangkah aku maju. Itukah Bani?, pikirku. Perlahan kudapati pria yang tengah duduk itu beranjak, langkahku terhenti. Aku memaku di balik mereka, diam, memperhatikan setiap gerak geriknya.
Ia beranjak, tadinya duduk, sekarang berdiri. Badannya menghadap depan, ke arah taman,lalu setengah badannya menoleh kesamping, ke arah wanita itu.  Aku memandanginya, aku tak tahu ia Bani atau bukan, aku ragu. Aku masih memandanginya lekat-lekat. Lalu diselipkannya Kembang Sepatu pada rambut wanita itu. Tak salah lagi, itu Bani. Hatiku bergetar, entah bagaimana rasanya. Kakiku lemas, tapi masih mampu menopang tubuh kurus ini. Ia tersenyum bahagia sekali menatap wanita itu. Hatiku bagai sebuah gelas yang dihempas, hancur.
Entah bagaimana ia bergelagat, tak terlalu jelas dalam jangkauan pandangku, semua tampak buram. Pelan-pelan air mata ini menetes, dari pangkal mataku, aku tak sekalipun berkedip. Tak ingin ku lepas pandangku dari padanya. Tiba-tiba dalam tegaknya, tampaklah aku, kami bersitatap. Aku buru-buru menghapus air mata yang menetes ini. Aku ingin memandang Bani dengan jelas. Kaget, aku menangkap jelas kekagetan dalam diri bani. Ia terpaku memandangku, aku melempar senyum pada Bani.
Aku bahagia bertatapan dengan Bani, meskipun bukan dengan jarak sepulu centi. Ia masih mematung, memandangiku. Aku ingin Bani menghampiriku, lalu aku memberikan Kembang Sepatu kesukaannya. Harapan itu sirna seiring bangkitnya wanita di samping Bani. Ia beranjak, mengimbangi posisi Bani berdiri. Tanpa aba-aba ia mencium pangkal leher bani, lalu pipinya dan semena-mena ia memeluk Bani.
Tiba-tiba dadaku terasa sesak, sulit sekali rasanya mengambil nafas. Sekujur tubuhku lemas, jari-jemari tak sanggup menggenggam, Bunga Sepatu itu lepas dari genggamanku. Kaki-kaki ku lemas, tak mampu lagi aku menopang tubuh kecilku ini. Aku jatuh, aku rubuh. Aku menatap hijaunya rerumputan dalam tundukku, tangis ini pecah. Aku menangis sejadi—jadinya, menepuk-nepuk dadaku agar tak terasa sesak. Tak berfungsi, aku seperti pecahan gelas kaca yang dihempas lagi.
Seseorang menangkap bahuku, dibawanya aku berdiri. Kudapati Bani masih memeluk wanita itu. Hancurnya aku, semua kebahagiaan yang pernah aku impikan sirna sudah. Bani tak menghampiriku, ia bahkan tak melempar satu senyum. Aku masih memandangi Bani memeluk wanita itu, dalam pandang yang kian kabur, dalam jarak yang makin jauh. Rido membawaku pergi, menceritakan apa yang terjadi selama kepergianku.
Sudah hampir pukul enam, polisi-polisi itu membiarkanku duduk menikmati senja di taman ini. Sendirian. Taman ini milikku, bangku ini miikku, Bunga Sepatu ini milikku, senja ini milikku. Mereka membiarkanku terbenam dalam kenangan. Seorang polisi muda lalu menghampiriku, ia duduk di sebelahku tanpa meminta persetujuan.
“Mengapa anda membunuh Sonia? ”, tanyanya. Aku menoleh, menatapnya dalam-dalam. “Aku hanya menembak Sonia”, jawabku singkat. “Cinta memang menyesatkan”, pungkas polisi muda itu.
Rido membawaku pergi, enyah dari hadapan Sonia dan Bani waktu itu. Rido menceritakan semuanya. Bani kecelakaan waktu main bola, kepalanya terbentur. Bani dirawat lima hari di rumah sakit. Hari ke enam ia sudah pulang dan berencana menemuiku. Entah kemana takdir membawa cerita, Bani mengalami kecelakaan lagi. Motornya ditabrak gadis yang tengah mengendarai sepeda motor. Keadaan Bani sangat parah waktu itu. Entah ia tertolong atau tidak.
Rido terlalu sibuk mengurusi segala sesuatunya hingga ia lupa memberiku kabar. Seminggu berlalu dari kecelakaan itu, kondisi Bani membaik. Tetapi Bani harus kehilangan penglihatannya. Entah malaikat apa yang ada pada diri Sonia, ia mendonorkan matanya untuk Bani. Operasi berhasil, Bani sembuh dan dapat melihat kembali. sejak kesembuhannya, hanya aku lah yang dipikirkannya. Bani mencari-cari aku, tapi tak pernah dijumpainya aku. Aku seperti menghilang begitu saja, tanpa memberi kabar, tanpa memperhatikannya, tanpa tahu kabarnya. Aku hanya hilang dan meninggalkannya.
Sejak tak mendapat kabar dari Bani dan mengira bani mati, dengan semua kebingungan itu, takdir mempertemukan aku dengan ayahku, aku pergi ke Inggris, dibawanya untuk pengobatanku. Selama kepergianku, Bani merasa hancur. Ia merasa lebih hancur setelah tahu wanita yang menabraknya kini buta, demi mendonorkan matanya untuk Bani.
Ayah Sonia melamar Bani, putrinya ternyata jatuh cinta dan rela memberi hidupnya pada Bani. Berhutang budi, patah hati, atau entah apa yang Bani rasakan, ia menerima Sonia. Orang tua Sonia mencari pendonor yang rela memberikan matanya untuk Sonia. Bani ingin menikahi Sonia tanpa Sonia harus melihat lagi. Namun ayahnya bersikeras pernikahan akan dilangsungkan setelah Sonia operasi dan bisa melihat lagi.
Tiga bulan sebelum kepulanganku ke Indonesia, mereka menikah.
“Cinta tidak menyesatkan. Cinta hanya sebuah jalan panjang yang kau tak tahu ujungnya. dan aku tersesat di dalamnya.”, tandasku. Polisi itu tersenyum. “Dan setelah mengorbankan dirimu seperti iini, kau tetap tidak mendapatkan Bani”.
“Aku hanya mengirim wanita malaikat itu ke surga”, aku menyeringai, membalas senyumnya. “aku mengirim ia ke tempat di mana ia seharusnya berada”.
Setalah Rido menceritakan semuanya, aku berlari lagi menuju taman. Aku berlari pada Bani, aku tergesa-gesa, hampir jatuh dalam perlombaan kedua kakiku. Aku masuk dalam lingkaran mereka, permainan bola terhenti. Semua mematung, memandangiku. Aku tersenyum pada Bani, menitikkan sedikit air mata. aku bahagia bisa melihatnya. Aku berlari ke arah Bani. Aku memeluknya dengan erat. Bani menerimaku, ia balas pelukan itu dengan erat. Aku terisak dalam peluknya.
“Aku mencintaimu Bani”, bisikku padanya.
“Aku jauh lebih mencintaimu, Berlian”, jawab Bani dalam sedunya.
Mendengar ucapan Bani, sesuatu bangkit dari dalam diriku. Aku merogoh saku kanan jaketku, mengeluarkan pistol yang dari tadi tidur nyenyak disana. Dalam pelukan Bani, aku mengarahkan bidikan pada wanita yang tengah berdiri di depan kursi.
“Aku mencintaimu Bani”. Lalu menarik pelatuknya tepat pada wanita itu. ia tersungkur, memegangi perutnya. Bani melepaskan pelukanku, kaget. Ia melihat sekeliling, didapatinya aku dan wanita itu. Ia lari mengejar Sonia. Bani menangis sejadi-jadinya, memeluki tubuh Sonia yang terkulai layu.
“Aku membencimu!”, Bani mengucapkannya berkali-kali. Melihat ke arahku, matanya berapi-api, ia membenciku.
…
Pigmen kulit sialan ini melemahkanku, sekaligus menguatkanku. Karenanya aku memiliki Bani, dan kehilangan Bani. Aku mengirim Sonia dan Junior yang berusia dua bulan di dalam perutnya ke surga. Bani mengirimku ke balik jeruji.

Selasa, 12 Desember 2017

Bab 2: Gemetar?

Pendaftaran dan tes telah usai, meski sempat tertinggal di hari pertama pendaftaran, Spora dan Laverna semangat datang siang keesokan harinya. Tibalah kegiatan yang ditunggu-tunggu semua siswa, pelaksanan ospek. Spora membenci kegiatan ini, baginya ospek hanya membuang waktu dan energi. Kegiatan ini juga tidak lantas membuat hubungan beratus-ratus siswa baru yang diterima akrab dengan senior yang terlibat mengospek maupun guru-guru.

Berbeda dengan Laverna, ia amat menyenangi kegiatan ini. Hal yang direncanakannya ialah menjatuhkan dan mengerjai senior yang nantinya berlagak songong. Laverna sudah menyiapkan beberapa rencana untuk senior yang bahkan belum mengganggunya.
“Yaaaaah”, teriak siswa yang tengah berkumpul di lapangan.

Hihihi, seringai Spora pada pengumuman yang barusan memberitahu para siswa bahwa masa orientasi akan diisi dengan kegiatan belajar di kelas, seperti mengingat pelajaran dan melakukan bersih-bersih. Spora amat sangat bahagia dengan pengumuman kepala sekolah. Selanjutnya kepala sekolah mengintruksikan siswa untuk masuk ke kelas dan mulai membersihkan ruangan terlebih dahulu.
“Yuk Spor, ke kelas, kelas kita sebelahan”, ajak Laverna pada Spora yang berdiri disebelahnya. 

Tanpa memperhatikan Spora, Laverna melangkah lambat menuju kelas, berharap Spora menyamakan langkah dengannya. Dua menit berlalu namun Spora tak kunjung hadir menyusulnya. Laverna berbalik mencari tahu keberadaan Spora.
Spora yang tertunduk, berjalan mengikuti seorang laki-laki disampingnya.
“Spor, Spooraaaa”, teriak Laverna menyadarkan Spora. Spora mendengar teriakan, lalu ia menarik lengan orang yang ada di samping nya.
“Lav, bentar deh. Kok kayak ada yang manggil ya?”, serta merta ia melihat wajah orang yang dikiranya Laverna.

Betapa kaget bukan kepayang ternyata orang yang dari tadi diikutinya bukan Laverna. Masih dengan ekspresi kaget dan mulut sedikit mengaga ia memandang wajah Rino. Seperti terkena sihir, Spora bahkan tidak mendengar teriakan Laverna yang sedari tadi memanggilnya.

Kesal dengan kelakuan temannya, Laverna berlari kecil menghampiri Spora. Belum ia sampai, dilihatnya anak laki-laki yang dipandangi Spora itu menjatuhkan sesuatu kedalam mulut Spora, lalu ia berseringai dan lari meninggalkan Spora yang masih mematung.

“uhuk, uhuk”, Spora terbatuk-batuk karena serpihan daun-daun yang dijatuhkan kedalam mulutnya tadi kini menggelitik kerongkongannya.
“Udah dipanggili dari tadi, malah ngikut orang gak jelas”, ucap Laverna yang langsung mengajak Spora ke kantin membeli air.
“Lav, kayaknya aku udah terhubung sama anak tadi deh. Namanya Rino, keknya aku suka lah sama dia”, racau Spora pada Laverna.
...
Dua bulan Spora bersekolah, berita Spora menyukai Rino pun menyebar ke seantero sekolah. Mengetahui hal ini, Rino bersikap biasa saja terhadap Spora. Tetapi ia selalu memberikan senyum termanis untuk Spora, dan setiap kali Spora mendapati Rino senyum padanya, ia hanya mematung memandangi Rino sampai anak itu berlalu dari hadapannya.

“Mana mungkin Rino suka sama patung”, ejek Laverna pada tingkah Spora yang tidak wajar ini.
“Ya ampun Lav, nggak ngerti lah aku kenapa kek gitu kalo ketemu sama Rino. Ini pasti cinta pada pandangan pertama. Dia itu manis kali senyumnya, yaudah nanti kalo ketemu sama dia lagi, aku coba nyapa ya”, respon Spora.

Rino dan teman-temannya terbahak-bahak mendengar percakapan yang direkam oleh Lukman, teman Rino. Lukman merekam percakapan Spora dan Laverna saat di kantin. Hari ini siswa diperbolehkan membawa hp ke sekolah karena hanya ada agenda bersih-bersih di sekolah. Mereka penasaran dengan aksi penyapaan Spora pada Rino, sehingga mereka membuat sebuah rencana.

Rino dan teman-temannya mengikuti Spora diam-diam, sampai pada keadaan yang mereka setting, Spora dan Laverna pergi ke toilet. Rino dan teman-temannya sengaja berkerumun tidak jauh dari jalanan menuju toilet, menunggu Spora keluar dan menyapa nya.
~
“Ngerjain bareng di rumah aku aja yuk, Lav. Kalo ada temennya kan enak tuh ngerjain, nggak ngantuk”, ajak Spora membuka percakapan.
“Boleh sih, cuma aku belum kepikiran aja Spor, bahan-bahan untuk membuatnya”, balas Laverna yang sedang berjalan bersamaan dengan Spora. Spora yang tengah memakai jam tangannya melanjutkan percakapan mereka.

“Kalo aku rencananya mau pake gabus, Lav...”, belum selesai Spora melanjutkan penjelasannya, Laverna menepuk-nepuk bahunya. Dengan agak kaget ia melihat kesamping, tepat ke wajah Laverna yang berdiri di sebelahnya. Spora mengikuti arah Laverna melihat, didapatinya Rino sedang berdiri tak jauh dihadapannya. Spora mendelikkan matanya, mulutnya terbuka sedikit, -lagi- ia mematung.

Rino dan teman-temannya diam, menunggu sapaan Spora. Melihat ekspresi Spora yang lagi-lagi aneh –menurutnya, Rino tersenyum pada Spora. Melihat senyum Rino yang melemahkan hatinya, tulang kaki Spora rasanya berubah menjadi jeli, kakinya melemah serasa tak mampu menopang besarnya bahagia yang dirasa.

Tak tahan dengan keadan ini, ia menarik tangan Laverna kemudian berlalu pergi meninggalkan Rino dan kerumunannya. Laverna merasakan genggaman tangan Spora yang dingin, ia tahu pasti sahabatnya ini sedang gugup sekali. Spora berharap bisa melakukan teleportase saat itu juga, ia berharap sudah berada di kelas dan mengembalikan keadaannya yang memalukan.

“Sporaa”, panggil Rino yang lalu menghentikan langkah Spora dan Laverna.

Ya ampun, dia manggil aku, mau ngapain yaaa. Ya yampun, noleh nggak yaa, aduh maluu, racau Spora dalam benaknya. Berharap tak ingin kehilangan kesempatan bercakap dengan Rino, Spora berbalik. Dilihatnya Rino semakin dekat berjalan ke arahnya. Jantung Spora semakin berdebar kencang, digenggamnya tangan Laverna semakin kuat.

“Ini, jam tangan nya tadi jatuh”, Rino memberikan jam tangan Spora.

Dengan ragu, tampak Spora menjulurkan tangannya hendak mengambil jam tangan. Tangannya gemetaran dan pikirannya entah kemana, rasanya seperti ia mau pingsan. Perlahan tapi pasti jam tangan itu berpindah ke tangan Spora.

“Lain kali hati-hati Spor, kalau rusak kan sayang...”, belum sempat ia melanjutkan kalimat, Spora memotongnya dengan cepat.

“Iya, aku juga sayang”, sela Spora pada Rino. Sesaat ia menyadari yang diucapkannya, Spora lalu menambahkan, “e.. emmm, itu maksudnya sayang kok sama jam tangannya”.

Rino yang merasa geli akan tingkah Spora hanya senyum lalu pergi meninggalkan Spora dan Laverna. Setelah ditinggalkan Rino, Spora merasa kakinya benar-benar tidak kuat menopang tubuhnya, ia ambruk, jatuh ke tanah.

“Ya ampun Lav, dia tau namaku. Dia tau namaku, hahaha”, Spora setengah berteriak girang, ia seakan tak percaya kalau Rino mengetahui namanya. Pandangannya tiba-tiba mengabur, air mata setitik menetes di pipinya.
“Spora, ko sampe nangis? Ya ampun, segitu sukanya ko sama dia? Sampe nangis haru gitu?”, respon Laverna pada kelakuan sahabatnya yang diluar nalarnya itu.
...
“Udah setahun pun, tetep nggak berhasil kan? Udah lah move on aja. Lagian suka sama cowok populer sih, susah lah banyak saingan. Bedakmu kurang tebal, pergaulanmu kurang maen, bajumu kurang ketat, main Volly pun nggak bisa, bisa mu lari aja. Hahaha lari dari kenyataan”, ejek Laverna pada Spora yang tengah uring-uringan mendengar kabar jadian Rino dengan pacar barunya.

Tiga bulan setelah mereka aktif belajar di kelas X dulu, Spora sudah patah hati. Rino pujaan hatinya mempunyai pacar, kakak kelas yang cantik. Ini merupakan kejelasan bahwa cewek tipe Rino adalah cewek cantik. Tak berjalan begitu mulus dengan si kakak kelas, Rino putus. Semester kedua Rino berpacaran dengan salah satu anak populer di sekolah yang memiliki pergaulan luas. Bahkan karena pengaruh anak ini, dulu Rino sering kali main ke kelas Spora karena anak laki-laki di kelas Spora pun jadi akrab dengan Rino. Semakin sering Rino main ke kelas Spora, semakin sering Spora absen berada di kelasnya. Kemana ia pergi? Tentu saja melanglang buana mencari informasi seputar Rino.

Setelah semua kisah yang dikuliknya dari temannya yang sekelas dengan Rino, diketahuinya lagi Rino pacaran dengan atlet Volly sekolah. Ya, anak ini tidak terlalu cantik, tapi tentu saja dia berprestasi dan Rino menyukainya. Dibalik keterpurukan Spora yang sudah 3 kali patah hati, kemana perginya sahabat Spora, Laverna? Alih-alih membantu Spora keluar dari kesedihannya, ia asyik menghabiskan waktunya di perpustakaan. Tak sedetikpun ia terlihat berkeliaran di sekolah, pada kesempatan apapun Laverna pasti selalu ke perpustakaan.

Spora kesal dengan kelakuan Laverna yang hobi menghilang, ia memutuskan untuk ke perpustakaan mencari Laverna. Keadaan perpustakaan gelap, tirai jendela tidak dibuka lebar. Spora membenci hal yang tidak sesuai dengan pikirannya. Menurutnya bagaimana bisa mereka tidak memberikan cahaya yang cukup untuk murid-murid yang sedang membaca. Inilah sebab ia malas berada di perpustakaan.
Ditelurusinya lorong demi lorong tak ditemukannya Laverna. Bergerak ke susunan kursi-kursi untuk pembaca, tampak lumayan ramai diisi siswa. Diperhatikan Spora satu persatu tapi tak tampak wajah Laverna ada disana. Merasa sudah membuang-buang waktu, ia memutuskan keluar dan kembali ke kelasnya, menunggu jam istirahat usai.

Dijalan menuju kelas, Spora berpapasan dengan Pak Ahmad, guru TI. Pak Ahmad meminta bantuan Spora untuk membawakan beberapa buku ke laboratorium komputer. Tanpa basa-basi Spora mengiayakan permintaan gurunya dan langsung bertolak ke lab.

Ruangan ini juga sama, gelap, pikir Spora. Tak menyukai keadaan ini, Spora buru-buru menaruh buku di meja guru. Dilihatnya sekeliling sebelum ia meninggalkan lab, tampak sesosok yang sempat membuat matanya terbelalak, Laverna. Anak ini ngapain disini? Basecamp nya pindah?, pikir Spora. Ia langsung menghampiri Laverna yang tengah asyik mengoperasikan photoshop.

“heh ngapain diisini? Aku muter-muter nyari di perpus tau!”, omel Spora pada Laverna.
Merasa tindakannya ketahuan orang lain, ia nyengir ke arah Spora.
“hehehe, iseng doang main disini. Bosen di perpus”, elak Laverna dan langsung mengajak Spora keluar.

Spora hanya memberikan muka masam pada Laverna dan meninggalkan Laverna yang masih berusaha mematikan komputer. Bel masuk tiba-tiba berbunyi. Kebetulan sekali, pikirnya. Ia lalu mempercepat langkah keluar ruangan dan jongkok, berusaha memakai sepatunya. Selesai memakai sepatu, ia mendongak ke atas dan berdiri.

Tatapannya terkunci oleh kehadiran Rino yang berdiri tepat didepannya. Patah hati dan move on hanya sebuah judul untuk cerita yang tidak akan usai. Jantung Spora memompa darah begitu cepat, bahkan nafasnya hampir tersengal. Sebisa mungkin ia berusaha tidak ketauan Rino sedang gugup, meskipun semua orang dapat melihat dengan jelas betapa gugupnya Spora.

Masih dalam tatap yang saling mengunci, tiba-tiba Spora terkaget. Rambutnya yang diikat belakang, ditarik oleh seseorang. Badannya yang tidak menerima aba-aba ikut tertarik searah yang menariknya dan berlalulah ia meninggalkan tatapan Rino.

“Yaelah, drama deh, lama!”, Laverna menarik rambut Spora dan gamblangnya ia mengucap sepatah kata itu. Tentu saja ia berakhir dimarahi oleh Spora. Ulah Laverna yang membuat Spora kesal sudah tentu akan membuat Spora lupa mengapa basecamp Laverna pindah ke lab. Untung saja tadi aku ngga kepergok Spora, batin Laverna.
...