Kisah ini menceritakan tentang dua gadis bersahabat yang memiliki kepribadian
berbeda. Yang satu bernama Spora sedangkan yang lainnya bernama Laverna. Cerita
akan author mulai dari perkenalan mereka.
Awal mula pertemuan mereka ialah saat pendaftaran SMA.
Pagi-pagi sekali Spora sudah berangkat dari rumah. “Ngeeek”, ibu Spora membuka pintu kamar
Spora. Dilihatnya seprai tempat tidur berantakan, bantal berjatuhan di lantai,
dan beberapa baju tampak berserakan di atas tempat tidur.
“Hmmm”, ibu Spora
berdeham kemudian berteriak memanggil anak keduanya. Adik Spora tergesa-gesa
menghampiri ibunya lalu ia berakhir merapikan kamar Spora.
Sementara itu, Spora sudah memasang kuda-kuda siaga untuk
menembus kerumunan pendaftar.
“Hmmm, sekolah ini ramai sekali, padahal aku sudah datang
pukul 10.00”, desis Spora yang tengah berdiri memandangi kantor guru, tempat
pendaftaran siswa baru.
“Aku saja yang sudah datang dari jam 08.30 belum berhasil
registrasi. Sudah, masuk sana, ambil nomor antrian lalu keluar dan menunggu
disini”, kata seorang anak yang tiba-tiba hadir di samping Spora.
Spora hanya melongo dan memandang dengan ekspresi bingung
pada orang yang berdiri tepat di sebelah kirinya. Gadis itu balik melihatnya
dan mengangkat kedua alisnya, lalu mengayunkan dagunya kedepan dan melempar
lirikan kearah keramaian yang sedang mereka bicarakan. Tanpa kata, Spora
mengangguk dan berlalu meninggalkan gadis itu menuju kantor,mengambil nomor
antrian.
“Nama saya Spora”, ucap Spora yang mengulurkan tangannya
menjabat Laverna, sekeluarnya ia dari kantor guru. Sementara itu, tangan
kirinya memegang nomor antrian.
“Aku Laverna. Dapat nomor antrian berapa?”, jawab Laverna
dengan santai.
“Emmm, aku... 300”, jawab Spora dengan nada sedih.
“Kenapa? Santaaai, aku aja dapat nomor urut 400”, hibur
Laverna dengan wajah polosnya.
Spora spontan mengernyitkan dahinya dan matanya terbelalak.
Tak ketinggalan mulutnya pun ikut menganga, tepat, ekspresi kaget yang
sempurna, pikirnya.
“Haaah? Kok bisa? Bukannya kamu datang duluan? Kok?” tanya
Spora penasaran.
“Ya gampang, aku minta nomor antrian 400 sama ibu-ibu yang
jaga meja registrasi”, sela Laverna.
“Tapi kenapa? Males banget kan nunggu lama-lama, terus kamu
malah minta nomor antrian 400, ini gak masuk akal”, ungkap Spora atas
ketidakpercayaannya. Teman barunya ini sedikit aneh, pikir Spora.
“Eh mau diceritain disini banget? Gimana kita pergi aja cari
makan, laper nih belum sarapan”, ajak Laverna. Spora dan Laverna lalu
meninggalkan sekolah dan keramaiannya, mengantongi nomor antrian
yang masih panjang.
...
“Bun, udah kenapa merepet nya. Yaudah nggak apa-apa. Kan kamar
kakak udah adek rapihkan”, pinta Amsal pada ibunya.
“Iya. Tapi kalau dibiarkan terus-terusan gak tobat-tobat
kakakmu itu. Tiap hari lah, selama liburan nggak pernah bangun pagi. Sekalinya
bangun pagi gak bilang-bilang kemana ngilangnya, hp ditinggal, kamar beserak,
bukan tau mau bantuin bunda. Anak gadis tapi malasnya bukan main. Tengok aja
nanti, kalo gak berubah, bunda pindahkan dia ke asrama. Biar dirasakannya masakan
yang gak enak, biar nyuci sendiri dia, nggosok baju sendiri, semua sendiri,
biar dirasakannya. Anak gadis kok malas kali”, begitulah ocehan bunda Spora
yang diluapkan pada Amsal, adik Spora.
Ini kenapa kayak jadi
agenda balas dendam ibu sama anak, pikir Amsal. Namun apapun yang terjadi,
semalas apapun Spora melakukan pekerjaan rumah, jika Spora dipindahkan sekolah,
maka semua pekerjaannya jatuh ke Amsal. Ini merupakan mimpi terburuk sepanjang
hayatnya.
“Ini lagi anak satu, bundanya ngajak ngobrol malah ditinggal
pigi. Mau diikutnya PL kakaknya itu....”, bunda melanjutkan omelannya dan kali
ini Amsal yang menjadi targetnya.
...
Dua mangkuk bakso sudah tersaji di meja Spora dan Laverna
serta segelas es teh manis pesanan Laverna, juga Jus Jeruk pesanan Spora.
Mereka mulai melahap makanan yang sudah siap santap itu.
“Ceritakan”, pinta Spora membuka obrolan.
Laverna tampak bingung, ia diam sejenak. Nampaknya Spora
tidak memberikan cukup clue pada
Laverna. Ia masih tampak bingung dengan permintaan Spora. Apa yang harus diceritakan, pikirnya.
“Alah, loading. Tadi loh, antrian 400. Katanya mau
nyeritain”, desak Spora.
“Oooh itu, hahaha. Jadi pas aku masuk ruangan, rame kali kan.
Beberapa anak yang ada disana itu desak-desakan ambil nomor antrian trus mereka
dimarahin sama penjaga registrasi, tau sendiri lah ibuk-ibuk gampang kali
tepancing kan”, Laverna menyeruput es teh yang ada di mejanya sebelum
melanjutkan ceritanya.
“Nah, abis marahin anak-anak itu, aku nyamperin mejanya
minta nomor antrian. Terus disemprotnya aku, katanya ini lagi mau ngapain, mau maksa-maksa daftar sekarang, desak-desakan
gak sabar, kan ada nomor antrian, nanti kan di panggil, gitu katanya. Emmh,
emosi pula aku Spor, ku bilang lah enggak
buk, saya mau ambil nomor antrian, saya sabar nungguin kok nggak bikin rusuh
desak-desakan, bak mari buk nomor antrian 400. Saya tunggu buk, saya tunggu.
Abis itu apa pikirmu? Tediam ibuk itu hahahaha”, Laverna tertawa sepuasnya bak
penyihir yang telah berhasil mengalahkan peri baik menjalankan tugasnya.
Spora hanya memandang Laverna dengan tatapan tidak mengerti.
Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan teman barunya ini. Dibelakang Spora
ditemukannya hal aneh. Kini Spora tampak tak nyaman dengan tempat duduknya.
Berkali-kali ia meminta Laverna untuk duduk sejajar, tepat didepannya. Tetapi
beberapa saat kemudian, ia meminta Laverna untuk bergeser lagi ke arah kiri.
Laverna mencium baru ketidak beresan atas tingkah teman barunya.
“kenapa sih dari tadi nyuruh geser-geser terus?”, tanya
Laverna agak kesal.
“itu, abang-abang baksonya nengok’in mulu. Kayanya dia in heart deh”, jawab Spora dengan wajah
yang sedikit mesem-mesem.
“Hahahaha, mana ada. Itu ko makannya belepotan kawan. Nah
tengok lah ini”, Laverna terbahak mendengar ungkapan Spora, sembari memberikan
kaca pada Spora.
“Sekalian itu muka dibedakin, udah kumal. Tadi pagi emang
nggak bedakan?”, tambah Laverna.
Spora hanya menundukkan pandangannya, mengambil tisu lalu
membersihkan bagian yang belepotan di wajahnya. Selepas itu ia membedaki
wajahnya yang masih berkeringat. Merasa wajahnya lebih baik, dengan percaya
diri Spora mengadahkan wajahnya lagi. Dan menyunggingkan senyum terbaiknya pada
Laverna.
Laverna terbelalak melihat rupa temannya yang satu ini, tak
lama kemudian tawanya pun pecah.
“Ya ampun Spora, padahal udah dikasi kaca loh. Gak bisa
sekalian kaca’an apa? Liat itu muka, bedakmu jamuran gitu. hahaha”, komentar
Laverna.
Mendengar ungkapan Laverna, tanpa ragu Spora menarik tisu
sebanyaknya dan mengelap bedak yang sudah ia oleskan di wajahnya.
“Ngomong-ngomong jamur, ko tau Lav, kenapa namaku Spora?”,
tanya Spora yang mencoba mengakrabkan dirinya dengan Laverna.
“Biar ku tebak, gara-gara ibumu sering makan jamur pas
hamil?”, jawab Laverna dengan santai.
Haah, batin Spora
yang terkaget-kaget mendengar tebakan temannya. Bagaimana dia bisa tau, pikir Spora.
“Itu muka nggak usah sok-sok mikir kenapa aku tau lah. Udah
jelas pasti ibumu suka makan jamur, kalo ko yang makan jamur, bukan namamu yang
Spora, tapi nama anakmu”, jelas Laverna.
“Hahahaha”, Spora tertawa mendengar penjelasan Laverna.
“Ceritain juga Lav, kenapa namamu Laverna. Itu kan tokoh jahat di kartun
Barbie. Ibumu dulu pas hamil hobinya nonton Barbie? Hahaha”, canda Spora pada
Laverna.
“Sebenernya namaku bukan Laverna, Spor. Itu aku aja yang bikin.
Soalnya aku kan anaknya jail gitu, ya agak nakal sikit lah. Jadi nama asliku
bersebrangan kali sama kelakuanku hahaha. Makanya aku ganti, trus terinspirasi
pas nonton Barbie”, jelas Laverna dengan bangga atas nama buatannya itu.
“Terus nama aslimu apa?”, tanya Spora penasaran.
“Hmmmm, many, Spor. Cuma ngga usah panggil gitu. Agak gimana
gitu kayaknya”, ungkap Laverna berbisik.
Spora dengan wajah polosnya terus memperhatikan dan
mendengarkan cerita Laverna dengan seksama. “ Ooohh iya yaa, kalo dipanggil
many, kayak Bahasa Inggris yaa, artinya banyak. Jadi berasa ko tu ada banyak,
Lav?”, telisik Spora pada cerita Laverna.
Laverna hanya menyunggingkan senyumnya dan mengangkat
alisnya berkali-kali. Spora pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Tanpa terasa mereka bercuap cukup lama. Merasa sudah
seharusnya beranjak, Laverna membayar tagihan lalu mereka meninggalkan kafe
itu.
“Lav, kita singgah di masjid dulu ya, udah Zuhur nih”, pinta
Spora di tengah perjalanan mereka menuju sekolah. Laverna mengangguk tanda
setuju. Akhirnya Laverna menepikan motor.
“Yuk”, ajak Spora.
“Aku nunggu di sini aja”, tolak Laverna.
“kamu....?”, belum selesai Spora bertanya, Laverna spontan
mengangguk, mengiakan pertanyaan Spora.
...
“kenapa dek?”, tanya Novol pada Laverna. Adiknya yang
pagi-pagi sekali bersemangat akan pendaftaran SMA nya sekarang pulang dengan
wajah tertekuk lemas.
“Aku gak jadi daftar bang, dapet antrian 400. Terus aku
tinggal pigi aja, eh pas balek udah tutup pendaftarannya. Katanya hari pertama
setengah hari aja, besok sampe seterusnya baru sampe sore”, jelas Laverna pada
Novol.
“Tumben kali kesal? Biasanya santai aja. Ko kan orang paling
santai”, ejek Novol pada adiknya.
“Memang bukan gara-gara itu bang sebelnya. Tadi aku dapat
kawan baru kan, jadi aku ngajak dia makan dulu sambil nunggu antrian yang
panjang itu. Gak terasa udah siang, jadi buru-buru lah kami pigi. Dijalan dia
teringat kalo belom solat, jadi singgah dulu kami di masjid. Aku nunggu dia lah
di luar masjid, terus abang tau? Laaaaama kali dia solatnya bang. Bayangkan
lah ampir sejam aku nunggu dia bang. Udah di luar panas, aku gak bawa jaket
pula, tambah itam la aku ini”, keluh Laverna panjang lebar pada abangnya.
Alih-alih mendapat perhatian dari Novol, Laverna ditinggal
main PS. Kesal dengan kelakuan abangnya, ia berjalan mendekati TV lalu mencabut
kabel, seketika itu TV pun mati. Novol yang tengah asik dengan permainannya
merasa kesal lalu melempar bantal sofa ke arah Laverna.
“Mini-mini Many, minggir sana! Ganggu aja”, usir Novol.
Laverna kesal pada abangnya yang sok perhatian tetapi acuh.
Ia kemudian beranjak dari tempatnya berdiri, melangkah ke arah Novol dan dengan
sergap ia menjambak jambul abangnya. Bersamaan setelah adegan itu, jerit Novol
dan tawa Laverna pecah bersama.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar