Selasa, 12 Desember 2017

Bab 2: Gemetar?

Pendaftaran dan tes telah usai, meski sempat tertinggal di hari pertama pendaftaran, Spora dan Laverna semangat datang siang keesokan harinya. Tibalah kegiatan yang ditunggu-tunggu semua siswa, pelaksanan ospek. Spora membenci kegiatan ini, baginya ospek hanya membuang waktu dan energi. Kegiatan ini juga tidak lantas membuat hubungan beratus-ratus siswa baru yang diterima akrab dengan senior yang terlibat mengospek maupun guru-guru.

Berbeda dengan Laverna, ia amat menyenangi kegiatan ini. Hal yang direncanakannya ialah menjatuhkan dan mengerjai senior yang nantinya berlagak songong. Laverna sudah menyiapkan beberapa rencana untuk senior yang bahkan belum mengganggunya.
“Yaaaaah”, teriak siswa yang tengah berkumpul di lapangan.

Hihihi, seringai Spora pada pengumuman yang barusan memberitahu para siswa bahwa masa orientasi akan diisi dengan kegiatan belajar di kelas, seperti mengingat pelajaran dan melakukan bersih-bersih. Spora amat sangat bahagia dengan pengumuman kepala sekolah. Selanjutnya kepala sekolah mengintruksikan siswa untuk masuk ke kelas dan mulai membersihkan ruangan terlebih dahulu.
“Yuk Spor, ke kelas, kelas kita sebelahan”, ajak Laverna pada Spora yang berdiri disebelahnya. 

Tanpa memperhatikan Spora, Laverna melangkah lambat menuju kelas, berharap Spora menyamakan langkah dengannya. Dua menit berlalu namun Spora tak kunjung hadir menyusulnya. Laverna berbalik mencari tahu keberadaan Spora.
Spora yang tertunduk, berjalan mengikuti seorang laki-laki disampingnya.
“Spor, Spooraaaa”, teriak Laverna menyadarkan Spora. Spora mendengar teriakan, lalu ia menarik lengan orang yang ada di samping nya.
“Lav, bentar deh. Kok kayak ada yang manggil ya?”, serta merta ia melihat wajah orang yang dikiranya Laverna.

Betapa kaget bukan kepayang ternyata orang yang dari tadi diikutinya bukan Laverna. Masih dengan ekspresi kaget dan mulut sedikit mengaga ia memandang wajah Rino. Seperti terkena sihir, Spora bahkan tidak mendengar teriakan Laverna yang sedari tadi memanggilnya.

Kesal dengan kelakuan temannya, Laverna berlari kecil menghampiri Spora. Belum ia sampai, dilihatnya anak laki-laki yang dipandangi Spora itu menjatuhkan sesuatu kedalam mulut Spora, lalu ia berseringai dan lari meninggalkan Spora yang masih mematung.

“uhuk, uhuk”, Spora terbatuk-batuk karena serpihan daun-daun yang dijatuhkan kedalam mulutnya tadi kini menggelitik kerongkongannya.
“Udah dipanggili dari tadi, malah ngikut orang gak jelas”, ucap Laverna yang langsung mengajak Spora ke kantin membeli air.
“Lav, kayaknya aku udah terhubung sama anak tadi deh. Namanya Rino, keknya aku suka lah sama dia”, racau Spora pada Laverna.
...
Dua bulan Spora bersekolah, berita Spora menyukai Rino pun menyebar ke seantero sekolah. Mengetahui hal ini, Rino bersikap biasa saja terhadap Spora. Tetapi ia selalu memberikan senyum termanis untuk Spora, dan setiap kali Spora mendapati Rino senyum padanya, ia hanya mematung memandangi Rino sampai anak itu berlalu dari hadapannya.

“Mana mungkin Rino suka sama patung”, ejek Laverna pada tingkah Spora yang tidak wajar ini.
“Ya ampun Lav, nggak ngerti lah aku kenapa kek gitu kalo ketemu sama Rino. Ini pasti cinta pada pandangan pertama. Dia itu manis kali senyumnya, yaudah nanti kalo ketemu sama dia lagi, aku coba nyapa ya”, respon Spora.

Rino dan teman-temannya terbahak-bahak mendengar percakapan yang direkam oleh Lukman, teman Rino. Lukman merekam percakapan Spora dan Laverna saat di kantin. Hari ini siswa diperbolehkan membawa hp ke sekolah karena hanya ada agenda bersih-bersih di sekolah. Mereka penasaran dengan aksi penyapaan Spora pada Rino, sehingga mereka membuat sebuah rencana.

Rino dan teman-temannya mengikuti Spora diam-diam, sampai pada keadaan yang mereka setting, Spora dan Laverna pergi ke toilet. Rino dan teman-temannya sengaja berkerumun tidak jauh dari jalanan menuju toilet, menunggu Spora keluar dan menyapa nya.
~
“Ngerjain bareng di rumah aku aja yuk, Lav. Kalo ada temennya kan enak tuh ngerjain, nggak ngantuk”, ajak Spora membuka percakapan.
“Boleh sih, cuma aku belum kepikiran aja Spor, bahan-bahan untuk membuatnya”, balas Laverna yang sedang berjalan bersamaan dengan Spora. Spora yang tengah memakai jam tangannya melanjutkan percakapan mereka.

“Kalo aku rencananya mau pake gabus, Lav...”, belum selesai Spora melanjutkan penjelasannya, Laverna menepuk-nepuk bahunya. Dengan agak kaget ia melihat kesamping, tepat ke wajah Laverna yang berdiri di sebelahnya. Spora mengikuti arah Laverna melihat, didapatinya Rino sedang berdiri tak jauh dihadapannya. Spora mendelikkan matanya, mulutnya terbuka sedikit, -lagi- ia mematung.

Rino dan teman-temannya diam, menunggu sapaan Spora. Melihat ekspresi Spora yang lagi-lagi aneh –menurutnya, Rino tersenyum pada Spora. Melihat senyum Rino yang melemahkan hatinya, tulang kaki Spora rasanya berubah menjadi jeli, kakinya melemah serasa tak mampu menopang besarnya bahagia yang dirasa.

Tak tahan dengan keadan ini, ia menarik tangan Laverna kemudian berlalu pergi meninggalkan Rino dan kerumunannya. Laverna merasakan genggaman tangan Spora yang dingin, ia tahu pasti sahabatnya ini sedang gugup sekali. Spora berharap bisa melakukan teleportase saat itu juga, ia berharap sudah berada di kelas dan mengembalikan keadaannya yang memalukan.

“Sporaa”, panggil Rino yang lalu menghentikan langkah Spora dan Laverna.

Ya ampun, dia manggil aku, mau ngapain yaaa. Ya yampun, noleh nggak yaa, aduh maluu, racau Spora dalam benaknya. Berharap tak ingin kehilangan kesempatan bercakap dengan Rino, Spora berbalik. Dilihatnya Rino semakin dekat berjalan ke arahnya. Jantung Spora semakin berdebar kencang, digenggamnya tangan Laverna semakin kuat.

“Ini, jam tangan nya tadi jatuh”, Rino memberikan jam tangan Spora.

Dengan ragu, tampak Spora menjulurkan tangannya hendak mengambil jam tangan. Tangannya gemetaran dan pikirannya entah kemana, rasanya seperti ia mau pingsan. Perlahan tapi pasti jam tangan itu berpindah ke tangan Spora.

“Lain kali hati-hati Spor, kalau rusak kan sayang...”, belum sempat ia melanjutkan kalimat, Spora memotongnya dengan cepat.

“Iya, aku juga sayang”, sela Spora pada Rino. Sesaat ia menyadari yang diucapkannya, Spora lalu menambahkan, “e.. emmm, itu maksudnya sayang kok sama jam tangannya”.

Rino yang merasa geli akan tingkah Spora hanya senyum lalu pergi meninggalkan Spora dan Laverna. Setelah ditinggalkan Rino, Spora merasa kakinya benar-benar tidak kuat menopang tubuhnya, ia ambruk, jatuh ke tanah.

“Ya ampun Lav, dia tau namaku. Dia tau namaku, hahaha”, Spora setengah berteriak girang, ia seakan tak percaya kalau Rino mengetahui namanya. Pandangannya tiba-tiba mengabur, air mata setitik menetes di pipinya.
“Spora, ko sampe nangis? Ya ampun, segitu sukanya ko sama dia? Sampe nangis haru gitu?”, respon Laverna pada kelakuan sahabatnya yang diluar nalarnya itu.
...
“Udah setahun pun, tetep nggak berhasil kan? Udah lah move on aja. Lagian suka sama cowok populer sih, susah lah banyak saingan. Bedakmu kurang tebal, pergaulanmu kurang maen, bajumu kurang ketat, main Volly pun nggak bisa, bisa mu lari aja. Hahaha lari dari kenyataan”, ejek Laverna pada Spora yang tengah uring-uringan mendengar kabar jadian Rino dengan pacar barunya.

Tiga bulan setelah mereka aktif belajar di kelas X dulu, Spora sudah patah hati. Rino pujaan hatinya mempunyai pacar, kakak kelas yang cantik. Ini merupakan kejelasan bahwa cewek tipe Rino adalah cewek cantik. Tak berjalan begitu mulus dengan si kakak kelas, Rino putus. Semester kedua Rino berpacaran dengan salah satu anak populer di sekolah yang memiliki pergaulan luas. Bahkan karena pengaruh anak ini, dulu Rino sering kali main ke kelas Spora karena anak laki-laki di kelas Spora pun jadi akrab dengan Rino. Semakin sering Rino main ke kelas Spora, semakin sering Spora absen berada di kelasnya. Kemana ia pergi? Tentu saja melanglang buana mencari informasi seputar Rino.

Setelah semua kisah yang dikuliknya dari temannya yang sekelas dengan Rino, diketahuinya lagi Rino pacaran dengan atlet Volly sekolah. Ya, anak ini tidak terlalu cantik, tapi tentu saja dia berprestasi dan Rino menyukainya. Dibalik keterpurukan Spora yang sudah 3 kali patah hati, kemana perginya sahabat Spora, Laverna? Alih-alih membantu Spora keluar dari kesedihannya, ia asyik menghabiskan waktunya di perpustakaan. Tak sedetikpun ia terlihat berkeliaran di sekolah, pada kesempatan apapun Laverna pasti selalu ke perpustakaan.

Spora kesal dengan kelakuan Laverna yang hobi menghilang, ia memutuskan untuk ke perpustakaan mencari Laverna. Keadaan perpustakaan gelap, tirai jendela tidak dibuka lebar. Spora membenci hal yang tidak sesuai dengan pikirannya. Menurutnya bagaimana bisa mereka tidak memberikan cahaya yang cukup untuk murid-murid yang sedang membaca. Inilah sebab ia malas berada di perpustakaan.
Ditelurusinya lorong demi lorong tak ditemukannya Laverna. Bergerak ke susunan kursi-kursi untuk pembaca, tampak lumayan ramai diisi siswa. Diperhatikan Spora satu persatu tapi tak tampak wajah Laverna ada disana. Merasa sudah membuang-buang waktu, ia memutuskan keluar dan kembali ke kelasnya, menunggu jam istirahat usai.

Dijalan menuju kelas, Spora berpapasan dengan Pak Ahmad, guru TI. Pak Ahmad meminta bantuan Spora untuk membawakan beberapa buku ke laboratorium komputer. Tanpa basa-basi Spora mengiayakan permintaan gurunya dan langsung bertolak ke lab.

Ruangan ini juga sama, gelap, pikir Spora. Tak menyukai keadaan ini, Spora buru-buru menaruh buku di meja guru. Dilihatnya sekeliling sebelum ia meninggalkan lab, tampak sesosok yang sempat membuat matanya terbelalak, Laverna. Anak ini ngapain disini? Basecamp nya pindah?, pikir Spora. Ia langsung menghampiri Laverna yang tengah asyik mengoperasikan photoshop.

“heh ngapain diisini? Aku muter-muter nyari di perpus tau!”, omel Spora pada Laverna.
Merasa tindakannya ketahuan orang lain, ia nyengir ke arah Spora.
“hehehe, iseng doang main disini. Bosen di perpus”, elak Laverna dan langsung mengajak Spora keluar.

Spora hanya memberikan muka masam pada Laverna dan meninggalkan Laverna yang masih berusaha mematikan komputer. Bel masuk tiba-tiba berbunyi. Kebetulan sekali, pikirnya. Ia lalu mempercepat langkah keluar ruangan dan jongkok, berusaha memakai sepatunya. Selesai memakai sepatu, ia mendongak ke atas dan berdiri.

Tatapannya terkunci oleh kehadiran Rino yang berdiri tepat didepannya. Patah hati dan move on hanya sebuah judul untuk cerita yang tidak akan usai. Jantung Spora memompa darah begitu cepat, bahkan nafasnya hampir tersengal. Sebisa mungkin ia berusaha tidak ketauan Rino sedang gugup, meskipun semua orang dapat melihat dengan jelas betapa gugupnya Spora.

Masih dalam tatap yang saling mengunci, tiba-tiba Spora terkaget. Rambutnya yang diikat belakang, ditarik oleh seseorang. Badannya yang tidak menerima aba-aba ikut tertarik searah yang menariknya dan berlalulah ia meninggalkan tatapan Rino.

“Yaelah, drama deh, lama!”, Laverna menarik rambut Spora dan gamblangnya ia mengucap sepatah kata itu. Tentu saja ia berakhir dimarahi oleh Spora. Ulah Laverna yang membuat Spora kesal sudah tentu akan membuat Spora lupa mengapa basecamp Laverna pindah ke lab. Untung saja tadi aku ngga kepergok Spora, batin Laverna.
...


Bab 1 : Daftar?


Kisah ini menceritakan tentang dua gadis bersahabat yang memiliki kepribadian berbeda. Yang satu bernama Spora sedangkan yang lainnya bernama Laverna. Cerita akan author mulai dari perkenalan mereka.

Awal mula pertemuan mereka ialah saat pendaftaran SMA.
Pagi-pagi sekali Spora sudah berangkat dari rumah. “Ngeeek”, ibu Spora membuka pintu kamar Spora. Dilihatnya seprai tempat tidur berantakan, bantal berjatuhan di lantai, dan beberapa baju tampak berserakan di atas tempat tidur.
“Hmmm”, ibu Spora berdeham kemudian berteriak memanggil anak keduanya. Adik Spora tergesa-gesa menghampiri ibunya lalu ia berakhir merapikan kamar Spora.

Sementara itu, Spora sudah memasang kuda-kuda siaga untuk menembus kerumunan pendaftar.
“Hmmm, sekolah ini ramai sekali, padahal aku sudah datang pukul 10.00”, desis Spora yang tengah berdiri memandangi kantor guru, tempat pendaftaran siswa baru.
“Aku saja yang sudah datang dari jam 08.30 belum berhasil registrasi. Sudah, masuk sana, ambil nomor antrian lalu keluar dan menunggu disini”, kata seorang anak yang tiba-tiba hadir di samping Spora.

Spora hanya melongo dan memandang dengan ekspresi bingung pada orang yang berdiri tepat di sebelah kirinya. Gadis itu balik melihatnya dan mengangkat kedua alisnya, lalu mengayunkan dagunya kedepan dan melempar lirikan kearah keramaian yang sedang mereka bicarakan. Tanpa kata, Spora mengangguk dan berlalu meninggalkan gadis itu menuju kantor,mengambil nomor antrian.

“Nama saya Spora”, ucap Spora yang mengulurkan tangannya menjabat Laverna, sekeluarnya ia dari kantor guru. Sementara itu, tangan kirinya memegang nomor antrian.
“Aku Laverna. Dapat nomor antrian berapa?”, jawab Laverna dengan santai.
“Emmm, aku... 300”, jawab Spora dengan nada sedih.
“Kenapa? Santaaai, aku aja dapat nomor urut 400”, hibur Laverna dengan wajah polosnya.
Spora spontan mengernyitkan dahinya dan matanya terbelalak. Tak ketinggalan mulutnya pun ikut menganga, tepat, ekspresi kaget yang sempurna, pikirnya.
“Haaah? Kok bisa? Bukannya kamu datang duluan? Kok?” tanya Spora penasaran.
“Ya gampang, aku minta nomor antrian 400 sama ibu-ibu yang jaga meja registrasi”, sela Laverna.

“Tapi kenapa? Males banget kan nunggu lama-lama, terus kamu malah minta nomor antrian 400, ini gak masuk akal”, ungkap Spora atas ketidakpercayaannya. Teman barunya ini sedikit aneh, pikir Spora.
“Eh mau diceritain disini banget? Gimana kita pergi aja cari makan, laper nih belum sarapan”, ajak Laverna. Spora dan Laverna lalu meninggalkan sekolah dan keramaiannya, mengantongi nomor antrian yang masih panjang.
...
“Bun, udah kenapa merepet nya. Yaudah nggak apa-apa. Kan kamar kakak udah adek rapihkan”, pinta Amsal pada ibunya.
“Iya. Tapi kalau dibiarkan terus-terusan gak tobat-tobat kakakmu itu. Tiap hari lah, selama liburan nggak pernah bangun pagi. Sekalinya bangun pagi gak bilang-bilang kemana ngilangnya, hp ditinggal, kamar beserak, bukan tau mau bantuin bunda. Anak gadis tapi malasnya bukan main. Tengok aja nanti, kalo gak berubah, bunda pindahkan dia ke asrama. Biar dirasakannya masakan yang gak enak, biar nyuci sendiri dia, nggosok baju sendiri, semua sendiri, biar dirasakannya. Anak gadis kok malas kali”, begitulah ocehan bunda Spora yang diluapkan pada Amsal, adik Spora.

Ini kenapa kayak jadi agenda balas dendam ibu sama anak, pikir Amsal. Namun apapun yang terjadi, semalas apapun Spora melakukan pekerjaan rumah, jika Spora dipindahkan sekolah, maka semua pekerjaannya jatuh ke Amsal. Ini merupakan mimpi terburuk sepanjang hayatnya.
“Ini lagi anak satu, bundanya ngajak ngobrol malah ditinggal pigi. Mau diikutnya PL kakaknya itu....”, bunda melanjutkan omelannya dan kali ini Amsal yang menjadi targetnya.
...
Dua mangkuk bakso sudah tersaji di meja Spora dan Laverna serta segelas es teh manis pesanan Laverna, juga Jus Jeruk pesanan Spora. Mereka mulai melahap makanan yang sudah siap santap itu.
“Ceritakan”, pinta Spora membuka obrolan.

Laverna tampak bingung, ia diam sejenak. Nampaknya Spora tidak memberikan cukup clue pada Laverna. Ia masih tampak bingung dengan permintaan Spora. Apa yang harus diceritakan, pikirnya.
“Alah, loading. Tadi loh, antrian 400. Katanya mau nyeritain”, desak Spora.

“Oooh itu, hahaha. Jadi pas aku masuk ruangan, rame kali kan. Beberapa anak yang ada disana itu desak-desakan ambil nomor antrian trus mereka dimarahin sama penjaga registrasi, tau sendiri lah ibuk-ibuk gampang kali tepancing kan”, Laverna menyeruput es teh yang ada di mejanya sebelum melanjutkan ceritanya.

“Nah, abis marahin anak-anak itu, aku nyamperin mejanya minta nomor antrian. Terus disemprotnya aku, katanya ini lagi mau ngapain, mau maksa-maksa daftar sekarang, desak-desakan gak sabar, kan ada nomor antrian, nanti kan di panggil, gitu katanya. Emmh, emosi pula aku Spor, ku bilang lah enggak buk, saya mau ambil nomor antrian, saya sabar nungguin kok nggak bikin rusuh desak-desakan, bak mari buk nomor antrian 400. Saya tunggu buk, saya tunggu. Abis itu apa pikirmu? Tediam ibuk itu hahahaha”, Laverna tertawa sepuasnya bak penyihir yang telah berhasil mengalahkan peri baik menjalankan tugasnya.

Spora hanya memandang Laverna dengan tatapan tidak mengerti. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan teman barunya ini. Dibelakang Spora ditemukannya hal aneh. Kini Spora tampak tak nyaman dengan tempat duduknya. Berkali-kali ia meminta Laverna untuk duduk sejajar, tepat didepannya. Tetapi beberapa saat kemudian, ia meminta Laverna untuk bergeser lagi ke arah kiri. Laverna mencium baru ketidak beresan atas tingkah teman barunya.
“kenapa sih dari tadi nyuruh geser-geser terus?”, tanya Laverna agak kesal.
“itu, abang-abang baksonya nengok’in mulu. Kayanya dia in heart deh”, jawab Spora dengan wajah yang sedikit mesem-mesem.

“Hahahaha, mana ada. Itu ko makannya belepotan kawan. Nah tengok lah ini”, Laverna terbahak mendengar ungkapan Spora, sembari memberikan kaca pada Spora. 
“Sekalian itu muka dibedakin, udah kumal. Tadi pagi emang nggak bedakan?”, tambah Laverna.

Spora hanya menundukkan pandangannya, mengambil tisu lalu membersihkan bagian yang belepotan di wajahnya. Selepas itu ia membedaki wajahnya yang masih berkeringat. Merasa wajahnya lebih baik, dengan percaya diri Spora mengadahkan wajahnya lagi. Dan menyunggingkan senyum terbaiknya pada Laverna.

Laverna terbelalak melihat rupa temannya yang satu ini, tak lama kemudian tawanya pun pecah.
“Ya ampun Spora, padahal udah dikasi kaca loh. Gak bisa sekalian kaca’an apa? Liat itu muka, bedakmu jamuran gitu. hahaha”, komentar Laverna.
Mendengar ungkapan Laverna, tanpa ragu Spora menarik tisu sebanyaknya dan mengelap bedak yang sudah ia oleskan di wajahnya.

“Ngomong-ngomong jamur, ko tau Lav, kenapa namaku Spora?”, tanya Spora yang mencoba mengakrabkan dirinya dengan Laverna.
“Biar ku tebak, gara-gara ibumu sering makan jamur pas hamil?”, jawab Laverna dengan santai.
Haah, batin Spora yang terkaget-kaget mendengar tebakan temannya. Bagaimana dia bisa tau, pikir Spora.

“Itu muka nggak usah sok-sok mikir kenapa aku tau lah. Udah jelas pasti ibumu suka makan jamur, kalo ko yang makan jamur, bukan namamu yang Spora, tapi nama anakmu”, jelas Laverna.

“Hahahaha”, Spora tertawa mendengar penjelasan Laverna. 
“Ceritain juga Lav, kenapa namamu Laverna. Itu kan tokoh jahat di kartun Barbie. Ibumu dulu pas hamil hobinya nonton Barbie? Hahaha”, canda Spora pada Laverna.

“Sebenernya namaku bukan Laverna, Spor. Itu aku aja yang bikin. Soalnya aku kan anaknya jail gitu, ya agak nakal sikit lah. Jadi nama asliku bersebrangan kali sama kelakuanku hahaha. Makanya aku ganti, trus terinspirasi pas nonton Barbie”, jelas Laverna dengan bangga atas nama buatannya itu.

“Terus nama aslimu apa?”, tanya Spora penasaran.
“Hmmmm, many, Spor. Cuma ngga usah panggil gitu. Agak gimana gitu kayaknya”, ungkap Laverna berbisik.

Spora dengan wajah polosnya terus memperhatikan dan mendengarkan cerita Laverna dengan seksama. “ Ooohh iya yaa, kalo dipanggil many, kayak Bahasa Inggris yaa, artinya banyak. Jadi berasa ko tu ada banyak, Lav?”, telisik Spora pada cerita Laverna.

Laverna hanya menyunggingkan senyumnya dan mengangkat alisnya berkali-kali. Spora pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Tanpa terasa mereka bercuap cukup lama. Merasa sudah seharusnya beranjak, Laverna membayar tagihan lalu mereka meninggalkan kafe itu.

“Lav, kita singgah di masjid dulu ya, udah Zuhur nih”, pinta Spora di tengah perjalanan mereka menuju sekolah. Laverna mengangguk tanda setuju. Akhirnya Laverna menepikan motor.
“Yuk”, ajak Spora.
“Aku nunggu di sini aja”, tolak Laverna.
“kamu....?”, belum selesai Spora bertanya, Laverna spontan mengangguk, mengiakan pertanyaan Spora.
...
“kenapa dek?”, tanya Novol pada Laverna. Adiknya yang pagi-pagi sekali bersemangat akan pendaftaran SMA nya sekarang pulang dengan wajah tertekuk lemas.
“Aku gak jadi daftar bang, dapet antrian 400. Terus aku tinggal pigi aja, eh pas balek udah tutup pendaftarannya. Katanya hari pertama setengah hari aja, besok sampe seterusnya baru sampe sore”, jelas Laverna pada Novol.
“Tumben kali kesal? Biasanya santai aja. Ko kan orang paling santai”, ejek Novol pada adiknya.

“Memang bukan gara-gara itu bang sebelnya. Tadi aku dapat kawan baru kan, jadi aku ngajak dia makan dulu sambil nunggu antrian yang panjang itu. Gak terasa udah siang, jadi buru-buru lah kami pigi. Dijalan dia teringat kalo belom solat, jadi singgah dulu kami di masjid. Aku nunggu dia lah di luar masjid, terus abang tau? Laaaaama kali dia solatnya bang. Bayangkan lah ampir sejam aku nunggu dia bang. Udah di luar panas, aku gak bawa jaket pula, tambah itam la aku ini”, keluh Laverna panjang lebar pada abangnya.

Alih-alih mendapat perhatian dari Novol, Laverna ditinggal main PS. Kesal dengan kelakuan abangnya, ia berjalan mendekati TV lalu mencabut kabel, seketika itu TV pun mati. Novol yang tengah asik dengan permainannya merasa kesal lalu melempar bantal sofa ke arah Laverna.
“Mini-mini Many, minggir sana! Ganggu aja”, usir Novol.
Laverna kesal pada abangnya yang sok perhatian tetapi acuh. Ia kemudian beranjak dari tempatnya berdiri, melangkah ke arah Novol dan dengan sergap ia menjambak jambul abangnya. Bersamaan setelah adegan itu, jerit Novol dan tawa Laverna pecah bersama.
...