Pecahkan saja puasanya, dengan ramai....
Yuhuuu ngga tau kenapa milih jargon itu, kayanya saya akhir-akhir ini lagi akrab sama yang "pecah-pecah", sama yang "hancur-hancur", hahaha.
Oke, back to the topic, ini postingan pertama saya setelah amat sangat lama *versisaya* engga nulis di blog. Terakhir di update itu setahun lalu, 2015. Kangen ngga, nulis di blog? KANGEN BANGET!
Tapi saya bukan tipe orang yang kangenan sih, jadi diganti aja, lebih tepatnya bukan kangen. Kasian aja gitu blog nya udah setahun ga diapa-apain.
Aku aja kesel kalo ngga diapa-apain kamu... (re: dianggurin, didiemin, dicuekin, delele. Wakak)
Mulai dari sekarang insyaAllah saya akan konsisten dan istiqomah "ngapa-ngapain" si blog ini :D
Well, ini cerita tentang perjalanan saya bersama teman-teman FLPC dalam acara buka bersama (apanya yang dibuka?), oke saya ralat, buka puasa bersama dan santunan anak yatim yang diadakan oleh FLP Wilayah Jakarta Raya.
Kalau teman-teman ada yang belum tau FLP itu apa, saya jelaskan terlebih dahulu. FLP itu adalah organisasi kepenulisan dengan kepanjangan nama Forum Lingkar Pena. Alhamdulillah saya sekarang bergabung dengan FLP cabang Ciputat (FLPC).
Sabtu, 18 Juni 2016, Saya dan ketua FLP Ciputat memenuhi undangan
FLP Wilayah Jakarta Raya dalam acara Buka bersama dan santunan anak yatim. Senior
FLP Ciputat, Alma Syaluna, yang ditemani suami pun turut hadir dalam acara ini.
Rombongan FLP Ciputat sampai di sekretariat FLP wilayah tepat 15 menit sebelum
berbuka puasa. Agenda yang tengah berlangsung saat itu ialah santunan anak
yatim.
Beberapa anak yatim yang sudah berkumpul
diberikan santunan, RT setempat juga terlihat hadir dalam acara yang
berlangsung dua hari ini. Sambil menunggu waktu berbuka tiba, perwakilan dari
FLP Wilayah memberikan tausiah mengenai berbakti pada orang tua. Tampak senyum
yang tersungging dari anak-anak itu kala pemberi tausiah mengajak mereka
bercanda.
Acara tersebut dihadiri oleh
beberapa perwakilan FLP Cabang, yakni FLP Ciputat, FLP Bogor, FLP Bekasi, dan
FLP Jakarta. Perwakilan FLP Ciputat yaitu dua orang pengurus dan 2 orang
senior. Sedangkn anggota yang mewakili FLP cabang lainnya cukup banyak.
Agenda setelah buka puasa bersama
dan santunan adalah penyampaian materi “membumikan sastra Qur’ani”. Sebelum
masuk kepada pemberian materi, seluruh peserta undangan dipersilahkan shalat
terlebih dahulu. Setelah peserta selesai melakukan ibadah shalat maghrib,
shalat isya’ dan shalat tarawih, barulah acara dimulai.
Membumikan sastra Qur’ani, materi
yang akan dishare dan didiskusikan malam ini. Sekilas pasti terbesit
dalam benak semua peserta. Sastra Qur’ani, apa bedanya dengan sastra yang lain?
Ada berapa jenis sastra? Sama seperti Sastra Islami, yang menyampaikan
nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai kebaikan dalam isinya, sastra Qur’ani
juga merupakan sastra yang mengandung atau menyampaikan nilai-nilai yang
terkandung di dalam Al-Qur’an. Sebagai seorang penyair atau pembuat karya, maka
yang menjadi pr besar untuk membumikan sastra Qur’ani ialah penulis harus faham
akan nilai-nilai yang ada dalam kandungan Al-Qur’an dan mengemasnya menajdi
tulisan yang tidak secara harfiah memindahkan arti dari ayat-ayat al-Qur’an
tersebut.
Waaah udah mulai berat nih, sekarang
kita pake bahasa santai aja yaah, udah berasa buat report nih saya padahal cuma
cerita aja. Jadi, sebagai penulis, kita harus pintar membuat karya yang
mengandung nilai-nilai Qur’ani. Tetapi tidak juga kita copy paste arti dan ayat
al-Qur’an secara gamblang (meskipun itu tidak dilarang). Emm, sebagai contoh
gini deh…
Misalkan ada sebuah cerita mengenai
hutan larangan. Penulis membuat cerita sedemikian rupa sehingga karena hutan
tersebut merupakan hutan larangan, maka tidak dibuka untuk umum apalagi warga
dengan semena-mena menebang pohon-pohon di hutan. Sekilas mungkin terlihat ini
adalah cerita horor atau mistis, tetapi kita tilik nilai yang hendak ditanamkan
oleh penulis, yakni nilai atau kandungan ekologis. Bahwa hutan sebagai pemasok
oksigen dan sebagai sirkulasi air, yang menjadi tanggul “banjir” ketika hujan
lebat menyergap. Kesan hutan larangan ini yang membuat persepsi warga,
masyarakat atau orang-orang untuk tidak mengganggu hutan.
Menurut
saya, ini sangat cerdas. Waaah, diskusi malam itu menyenangkan, meskipun saya
tidak banyak bicara dan hanya mencatat materi yang disampaikan Mas Sudiyanto,
Ketua FLP Wilayah Jakarta Raya. Dan inilah pr kami sebagai penulis
Acara buka bersama ini sangat
menyenangkan, saya ketemu lagi dengan kaka-kaka ketjeh dari Bogor. Ahhh, long
time no see ternyata mereka masih ingat dan nambah satu orang cewe chantique
lagi yang dateng. They’re such kind and friendly. Bisa aja gituh langsung akrab
baru sekali jumpaaaa.
Waitin’ for the next meeting you
kaka-kaka….
Segini
aja deh ceritanya, kalo diceritain sampe abis ntar saya ketauan nakalnya :D