Sabtu, 11 Januari 2014

Cerpen-ceritanya Islami-

KIBAR JILBAB ANISSA

11.15 am: Anissa dan Natasha sedang berada diruang guru BP untuk di interogasi mengenai perkelahian yang mereka lakukan pagi tadi.
“ceritakan kejadiannya” pinta bu Alya, si guru BP. Lalu Natasha angkat bicara “Anissa menampar pipi saya bu, lalu saya balas menamparnya”.
“kenapa kamu menampar Natasha, Anissa?” Tanya bu Alya. Anissa menjawab singkat “karena dia menjambak rambut saya bu”. Kembali lagi bu Alya bertanya kepada Natasha, “kenapa kamu menampar Anissa?”. Natsha kembali lagi menjawab, “karena Anissa menjambak rambut saya duluan bu”. Bu Alya bertanya lagi pada Anissa, “ kenapa kamu menjambak rambut Natasha?”. Lalu Anissa menjawab dengan enteng, “karena saya lagi pingin menjambak rambut orang bu, ketika saya lihat rambut Natasha yang panjang dengan gulungan-gulungan seperti itu menambah keinginan saya untuk menariknya”. Tanpa sempat bu Alya bicara, Natasha langsung menimpali perkataan Anissa, “ini namanya di sosis, bukan digulung-gulung, Lahir!”.
Anissa kembali membalas Natasha, “tuh bu Alya, rambutnya disosis kata dia, masih untung saya ingin menjambaknya, kalau saya ingin menggorengnya bagaimana coba?”. Bu Alya angkat bicara sembari menahan tawa kecilnya. “Hmmm, cukup Anissa. Kamu jail sekali, jangan mengganggu teman-teman mu lagi, ibu sudah capek menghadapi hal seperti ini. Kamu sudah berulang kali ibu nasihati, tetapi belum juga berubah. Setiap habis dinasihati, selalu bilang tidak akan mengulang, tetapi masih saja di ulang. Sudah, kali ini tidak ada toleransi lagi, ibu akan memanggil orang tua kamu”. Kembali lagi Anissa menjawab enteng, “silahkan saja ibu panggil orang tua saya, saya yakin mereka tidak akan datang. Paling-paling bi Mira yang akan datang”, lalu ia meninggalkan ruangan itu tanpa permisi.
“Baiklah Natasha, kamu bisa kembali ke kelas sekarang, lain kali kamu perhatikan penampilan kamu, kamu masih SMA. Tujuan kamu ke sekolah adalah untuk belajar, bukan untuk fashion show, bergaya lah sesuai dengan gaya anak anak sekolah yang wajar.” Bu alya menasihati Natasha. “baik bu, akan saya pertimbangkan nasihat ibu, permisi”, jawab Natasha.
            Selanjutnya pak Mundzier menghampiri bu Alya untuk menanyakan kasus muridnya, Anissa dan Alya. “bagaimana soal perkelahian tadi bu?” Tanya si wali kelas. “oh, sudah beres pak, saya berencana memanggil orang tua Anissa pak, tetapi anak itu bilang bahwa orang tuanya pasti tidak akan datang. Bagaimana menurut bapak?”. “ia bu, saya juga yakin kalau orang tua Anissa tidak akan datang, ayah dan ibunya sama-sama orang sibuk, sering sekali keluar kota, bahkan keluar negeri, karena ayahnya kan pengusaha furniture. Sedangkan ibunya juga aktif di yayasan sosial mereka”, jawab pak Mundzier.
“wah, kalau begitu orang tua Anissa benar-benar tidak mempedulikan tumbuh kembang Anissa ya pak”, tanya bu Alya. Pak Mundzier menjawab, “sebenarnya mereka peduli bu, dirumah Anissa kan ada pembantu. Abangnya Anissa juga menyempatkan untuk pulang kerumah setiap libur kuliah. Hanya saja, pekerjaan menuntut mereka jarang dirumah. Mereka menyewa jasa seorang guru ngaji untuk Anissa, sehingga guru ngaji ini dapat mengajari Anissa perihal agama dan juga menjaga Anissa. Tetapi ya begitu lah bu, mungkin Karena memang dari awalnya sudah merasa kurang perhatian, dia sering bolos belajar ngajinya”. “kalau begitu, anak ini harus benar-benar dibantu pak”, timpal bu Alya. “ia bu, saya setuju. Jangan sampai Anissa berkembang dengan sifat buruknya ini”, jawab pak Mundzier.
            Sementara Pak Mundzier masih berbincang-bincang dengan Bu Alya, Anissa dan Natasha sudah berada dikelas kembali. Saat itu sedang berlangsung pelajaran Biologi. Bu guru menjelaskan materi Klasifikasi Hewan dan Tumbuhan. Bu Herawati menjelaskan bahwa Kingdom Animalia dikelompokkan kedalam beberapa filum, yaitu: Protozoa, Porifera, Coelenterata, Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Echinodermata, Arthropoda dan Cordata. Sedangkan klasifikasi tumbuhan yaitu: 1)Kingdom Monera yang terdiri dari Schizophyta dan Canophyta; 2)Kingdom Fungi, terdiri dari: Oomycotina, Zigomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deutromycotina; dan yang ke 3)Kingdom Animalia terdiri atas Algae, Bryophyta, Pteridhopyta, dan Spermatozoa. Kelas semakin ramai saat bu Herawati menugaskan siswa-siswa untuk membuat peta konsep Klasifikasi Hewan dan Tumbuhan.
Teeeeeeeeeeeeet, bel istirahat berbunyi, sekarang jam menunjukkan pukul 01.05 pm. Anissa berdiri dari kursinya bergegas hendak pergi ke kantin, lalu Hanafi melewatinya. “Hanafi, lo mau kemana?”, Tanya Anissa. “Ya mau shalat lah, emang aku kamu, gak shalat!”, jawab Hanafi. Anissa diam sejenak, “Eh lo sembarangan ya! Gu.. uu..e shalat kok”, tambahnya. Lalu Hanafi melangkah mendekati Anissa sampai mereka hanya berjarak sejengkal. Annisa mulai gerogi dengan tingkah Hanafi. Annisa mulai bingung dan memejamkan matanya,“aku mau ngasi saran, kenapa kamu gak pake jilbab aja? Dengan begitu kan kamu bebas bisa ngejambak rambut Natasha tanpa kena jambak balik”. Dhuaaar... ternyata di luar ekspektasi, Annisa langsung membuka matanya dan dengan lantang menjawab, “terimakasih atas ide anda saudara. Tetapi, jauhkan terlebih dahulu wajah anda dari wajah saya. Minggir lo, awas gue mau shalat”, kata Anissa sembari pergi meninggalkan Hanafi. Dijalan, Anissa berfikir kenapa Hanafi memberinya saran seperti itu, padahal seperti yang Anissa tau Hanafi adalah anak yang baik, lulusan pesantren pula waktu SMP dulu. Apa yang salah dengannya? Mengapa dia menyuruh memakai jilbab dengan tujuan yang tidak baik? Anissa memutar-mutar otaknya untuk menemukan alasan Hanafi. 
17.03 pm: Anissa tiba dirumah dan berteriak “Aku pulaaaaang”. Guru ngaji Anissa sudah menunggu Anissa dirumah, “biasakan mengucap salam sebelum memasuki ruangan!” kata bu Andini. Anissa kaget dan terdiam lalu menjawab, “ia bu, assalamualaikum”. “Waalaikum salam” jawab bu Andini, lalu bu Andini menambahi lagi “Mau sampai kapan kamu buat saya menunggu, Anissa? Sudah dari pukul tiga saya disini, karena seharusnya kamu sudah pulang pukul dua. Tetapi kenapa baru sampai rumah pukul lima?”
“saya jalan-jalan dulu bu sama Angel, maaf”, jawab Anissa. Bu Andini menambahi, “baiklah saya maafkan, tetapi lain kali saya sangat berharap kamu ubah atitut kamu itu Anissa. Tugas saya disini adalah untuk membimbing kamu. Satu tahun sudah kamu saya bimbing, tetapi masih saja kamu tidak menunjukkan perubahan. Kamu masih jadi Anissa yang egois, tidak memikirkan perasaan orang lain, kamu masih menjadi Anissa yang selalu menyia-nyiakan waktu. Ingatkan kamu Qur’an Surah Al-Ashr? Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Jadi saya mohon, rubah sikap kamu Anisaa, fikirkan orang tua kamu, apa kamu tidak pernah berfikir bagaimana perasaan mereka jika kamu mengecewakan mereka.”
Anissa lalu menjawab, “baiklah bu, pertama-tama dengan ibu berbicara sepanjang itu sudah membuang waktu, selanjutnya orang tua saya saja tidak memikirkan saya dengan kepergian mereka terus menerus begitu. Dan satu hal lagi, kalaupun saya berubah, perubahan saya itu bukan untuk orang tua saya, melainkan untuk ibu. Baik, saya permisi mau shalat Ashar dulu”, Anissa bergegas kekamarnya dan meninggalkan Bu Andini di ruang Tamu. Bu Andini terdiam mendengar statement Anissa.~
            “Kamu mau minum, sayang?” sapa Rida, sambil menawarkan sebotol Aqua dingin. “Rida, jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu”, Rean langsung membenahi laptopnya dan bergegas pergi. “oke, oke, aku minta maaf, tetapi apakah salah jika aku mengekspresikan rasa sayangku padamu?” henti Rida. Lalu Rean menjawab, “sebaiknya ekspresikan saja dulu rasa sayang itu pada orang tuamu, ku dengar kamu sedang berkonflik dengan mereka.” Rida yang merasa disudutkan langsung menyela Rean, “jangan campuri urusan pribadiku!”. “sungguh bukan wanita dengan tabiat seperti itu yang aku inginkan menjadi permaisuri hatiku, Assalamualaikum”, jawab Rean kembali. Rida yang saat itu benar-benar merasa salah hanya bisa diam mendapati bahwa dirinya telah salah berkata dan bertindak. Sudah sirnalah keinginannya memenagkan hati Rean. Telah sirna empat tahun pengharapan Rida, empat tahun lalu saat pertama kali menjadi mahasiswa, pertama kali melihat Rean dan pertama kali itu hati Rida tertambat. Kini, dimatanya Rean berlalu meninggalkan sejuta kekecewaan. Rean, sembari berjalan menuju ke perpustakaan melewati Rida, ia membatin “maafkan aku Rida, engkau wanita baik, tetapi bukan wanita yang aku harapkan untuk menjadi pendampingku, kukira menjadi sahabat adalah status terbaik antara kita”.
Hp Rean berdering, ‘Rean, jangan lupa pulang dan lihat adikmu, Anissa. Jaga Anissa baik-baik, Mama dan Papa akan tiba di Jakarta Sabtu pagi, jadi akhir minggu ini kita bisa berkumpul bersama’ ternyata pesan dari ibu Rean. Ibu dan ayah Rean sedang berada di Paris, hunting bahan yang akan digunakan dalam pembuatan furniture perusahaannya. Rean teringat ternyata sekarang adalah hari Kamis, saatnya ia pulang kerumah. Mengunjungi Adik semata wayang yang –menurutnya- menyebalkan. Kembali lagi ia harus mengurusi adiknya yang kasar dan super melawan itu. Entah dengan cara apa apa lagi ia mengajari adiknya. Tetapi sebagai seorang kakak yang baik ia tetap harus berusaha membimbing adiknya menjadi pribadi yang lebih baik. Reanpun berencana pulang setelah menyelesaikan urusannya di Perpustakaan. Menyelesaikan urusan susun menyusun skripsinya.
Siang itu juga Rean membenahi barang-barang di kosannya dan bersiap-siap pulang kerumah tercinta di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sesampainya dirumah, Rean mendapati adiknya sedang memakai hotpens dengan atasan kaos tanpa lengan, rambut ikalnya yang sebahu disimpul keatas, ia sedang menuruni tangga menuju dapur. Anissa melihat kakaknya baru sampai dan menyapanya, “hei bang lo baru datang? Kemana aja? Ga pernah ngabarin adek lo lagi? Ga kangen sama gue emang?”. Melihat pakaian adiknya dan mendengar kata-kata seperti itu Rean sontak marah besar. Ia tidak suka dengan sikap Anissa yang kasar dan sembrono, “Anissa, apa-apaan ini? Mama dan Papa menyewa guru kaji untuk kamu tapi apa hasilnya? Tidakkah kamu peka akan sikapmu itu Anissa? Berkali-kali abang katakan, berlakulah lemah lembut, jangan berbicara kasar seperti itu!”. Anissa menganggapi omongan abangnya dengan mengatakann bahwa bilang “lo” ataupun “gue” itu bukan hal yang kasar. Namun Rean tetap bersikeras menyadarkan adiknya, “apa pantas kamu menyapa abangmu dengan kata-kata seperti itu? Sangat tidak sopan. Mengapa kamu tumbuh menjadi gadis seburuk ini? Dari kecil orang tua kita mengajarkan agama kepadamu, melandasi imanmu dengan agama, agar kamu tumbuh menjadi anak yang berakhlak. Bukan menjadi anak yang kasar dan tidak tau menempatkan kata-kata seperti ini Anissa. Allah berfirman dalam surat Ali imran ayat 159, yakni ‘maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu berlaku keras lagi berhati kasar  tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu’. Berhati keras yaitu bertutur kata dengan kasar, seperti yang kamu lakukan tadi. Sadar, Allah sudah memberi kamu rahmat, jadi mengapa kamu masih berkata-kata kasar?”. Anissa hanya diam dan tertunduk, Rean melanjutkan kembali kata-katanya, “ketahuilah Anissa sayang ku, bertutur kata yang baik menjadi sebab mendapat ampunan Allah dan sebab masuk surga; lalu, mendapatkan kamar yang istimewa di surga kelak, dapat menggantikan sedekah, dan masih banyak yang lainnya. Maka, ayo dik mulai sekarang bertutur kata yang baik, ubah sikap kamu, kamu bukan lagi anak kecil Anissa, sebentar lagi kamu akan lulus SMA dan akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Jika masih berkata kasar seperti itu, bagaimana akan mendapat banyak teman? Sebaliknya, orang akan menjauhi kamu Anissa”. Anissa masih tertunduk dihadapan abangnya, tanpa ia sadari ternyata air matanya menetes. Rean tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, ia merupakan sosok abang yang baik dan manis untuk Anissa. Tetapi dengan perubahan tindakan abangnya ini, Anissa menyadari bahwa perilakunya sudah berlebihan salah. Melihat adiknya berdiri tunduk seperti itu, Rean merasa iba. Rean menyuruh Anissa pergi kekamarnya dan memikirkan benar-benar apa yang di nasihatkan abangnya itu. Anissa pun segera pergi dari hadapan abangnya, sesampainya dikamar, Anissa menangis sejadi-jadinya. Saat itu pukul dua, gadis remaja ini masih terisak diatas tempat tidur berlapis bad cover berwarna cokelat kesayangannya. Anissa berfikir, ia memang salah, mengapa ia begitu buruk? Mengganggu Natasha dikelas padahal Natasha sendiri tidak pernah mengusiknya, berlaku tak sopan serta mengabaikan bu Alya dan pak Mundzier, meremehkan Hanafi, berkata kasar, berperilaku yang tidak semestinya anak perempuan-berpendidikan- lakukan. Anissa sadar Allah memberinya segala kemudahan, dan rahmat yang berlimpah, namun mengapa ia menyia-nyiakannya. Dadanya dipenuhi rasa sesak: menyesal akan ketololannya dan merasa terhakimi oleh perlakuan abangnya.~
Disekolah, Natasha dan Hanafi sedang membicarakan acara yang akan sekolah mereka adakan, dalam acara-Students in Talent-. Hanafi dan Natasha merupakan anak osis, begitupun dengan Angel, teman terdekat Anissa. Hanafi dan Natasha berencana mengadakan lomba Fashion, Natasha lah yang sangat berantusias dalam lomba ini. Mendengar hal itu, Angel berencana mendaftarkan Anissa sebagai peserta tanpa sepengetahuannya. Setelah rapat selesai, Angel menemui Hanafi dan memberi tahu  rencananya pada Hanafi. Namun Angel tak merasa yakin dengan idenya ini, karena idenya merupakan hal yang mungkin akan ditolak mentah-mentah oleh Anissa. Namun Hanafi sangat setuju dengan ide Angel dan meyakinkan Angel kalau Anissa pasti mau melakukan yang diinginkannya. Percakapan selesai setelah mereka membuat persetujuan.
Malam hari dirumah Anissa: Anissa turun dari kamarnya dengan mata bengap, dan Rean telah menunggunya di meja makan. Rean meminta maaf pada adiknya-yang sebelumnya tak pernah ditegurnya itu- jika tadi siang perkataannya sangat menyakiti hati Anissa. Tetapi Anissa yang sudah sadar akan kesalahannya tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Menyadari adiknya sudah mengerti akan syara’, Rean angkat bicara lagi, “dan tadi siang juga abang lihat pakaian kamu terbuka sekali. Kamu kan sudah beranjak dewasa dek, jadi tentu tidaklah benar seorang gadis yang sudah baligh membuka auratnya, apa kamu tidak malu?”
“ia bang Anissa salah, kedepannya Nissa akan memperhatikan hal itu. Terimakasih abang sudah mengingatkan Nissa”, jawab Anissa.~
Keesokan harinya disekolah Anissa bertemu dengan Angel. Angel menceritakan pada Anissa bahwa akan diadakan acara lomba fashion show dan Angel telah mendaftarkan nama Anissa sebagai peserta. Anissa yang tidak tahu apa-apa hanya kaget. Anissa berusaha meyakinkan Angel bahwa ia tidak bisa mengikuti lomba ini karena dia bukan tipe gadis yang suka berdandan, bukan tipe gadis yang berjalan indah, melainkan gadis tomboy yang cuek akan penampilan. Namun sahabatnya itu membantah, dan malah sebaliknya menasihati Anissa bahwa dengan adanya kontes ini Anissa bisa berubah menjadi gadis yang peduli penampilan, dan bisa berubah menjadi sedikit lebih feminine. Akhirnya Anissa hanya bisa pasrah dengan keputusan Angel.
Tiba hari Sabtu, orang tua Anissa pulang ke Indonesia. Anissa dan Rean menjemput kedua orang tuanya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di terminal 3-arrivalnya kedatangan dari luar negeri-. Anissa lagsung memeluk mamanya saat bertemu, “Anissa rindu sekali dengan mama”, kata Anissa.  Rean tersenyum melihat tingkah Anissa itu, karena sebelum-sebelumnya saat mereka menjemput orang tua mereka tidaklah akan Anissa bertingkah manis, alih-alih berkata rindu, tersenyum pun ia tidak. Menyadari hal yang tak biasa ini, orang tua Anissa pun senang bukan kepalang.
Malam harinya mereka berencana keluar, karena sudah jarang bisa kumpul besama. Saat yang lain sudah berkumpul didalam mobil menunggu Anissa turun, maka saat Anissa turun adalah saat yang paling mengejutkan. Anissa turun memakai kemeja lengan panjang, dengan rok hitam bermotif bunga. Yang lebih mengejutkan lagi ia memakai jilbab. Mama Anissa kaget, “sayang, kamu…”, belum selesai ia bicara Anissa langsung memotong omongan mamanya, “ia Mah, kan dijelaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 59 ‘katakanlah hai Nabi, kepada isteri-isterimu, anak-anak gadismu, dan isteri-isteri orang beriman, hendaklah mereka menutupkan baju kurungnya kebadan mereka (waktu keluar rumah)”. Yang demikian lebih memudahkan untuk mengenal mereka dan mereka tidak akan diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang’. Jadi, Anissa tidak punya alasan untuk membuka aurat Anissa kan ma”. “subhanallah sayang, mama bangga sama kamu”, jawab mama Anissa.~
Tibalah hari ‘H’ acara fashion show, Angel sudah siap untuk menjadi make overnya Anissa. Anissa yang tengah duduk sendiri diruang make up, mendapati seseorang masuk keruangan itu. Hanafi datang membawa sebuah tas kecil, lalu berkata, “jadilah Model muslimah, kerudung ini akan membuatmu tampak lebih indah”. Hanafi menaruh tas itu di meja, tanpa menunggu Anissa angkat bicara, Hanafi langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Angel datang dengan peralatan make up nya, selanjutnya ia sihir si tomboy Anissa menjadi bidadari. Indah sekali, Anissa menggunakan kebaya coklat berpayet merah dibalut kerudung merah marun yang diberi Hanafi. Menunggu giliran tampil, Anissa latihan berjalan ala catwalk, karena sebelumnya ia tidak pernah berjalan anggun. Urutan Anissa adalah setelah Natasha, gadis yang tempo hari rambutnya dijambak Anissa. Anissa terlihat glamour dengan gaun dan tatanan rambutnya. Tibalah giliran Anissa tampil. Ia berdiri diatas panggung, dilihatnya Papa, Mama, dan Rean duduk dikursi penonton. Disamping panggung, Hanafi tersenyum, tanpa basa basi Anissa lansung berjalan. Si cantik Anissa, terlihat lebih cantik lagi dengan jilbab yang berkibar akibat  efek angin yang ditimbulkan oleh tim koreo. Ia merasa senang, ia merasa dihargai, ia merasa terlindungi. Berhijab dapat menentramkan hatinya, ia dapat menjaga auratnya, namun tidak lantas ia menjadi pasif dengan berhijab. Sejak saat itu, Anissa tak pernah menanggalkan jilbabnya.~

Pashmina merah marun itu selalu tergantung rapi didalam lemarinya.